ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. Y DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN: HEPATITIS PADA RUANG ANAK

BAB II

LANDASAN TEORI

 

Pada bab ini penulis akan memaparkan tentang anatomi fisiologi sistem pencernaan, dan juga di khususnya pada hati dan kandung empedu, konsep dasar Hepatitis serta asuhan keperawatan pada klien dengan Hepatitis.

  1. A.      Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan

Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan (pengunyahan, penelanan dan pencampuran) dengan enzim dan zat cair yang terbentang mulai dari mulut (oris) sampai anus. Sususan saluran pencernaan terdiri dari Oris (mulut), faring (tekak), Esofagus (kerongkongan), ventrikulus (lambung),intestinum minor (halus) yang terdiri dari duodenum, jejenum,  ileum, hati, empedu. intestinum mayor (usus besar) yang terdiri dari sekum, kolon asenden, transversum, desenden, sigmoid. setelah itu rektum dan anus. (Syaifuddin, 2002: halaman 173)

 

 

 

 

Gambar 2.1. Anatomi Sistem Pencernaan

( Frederic.2003,http://www.wikipedia.com

diambil tanggal 18 Juni 2012)

Fungsi utama saluran gastrointestinal adalah memberikan cairan, nutrisi, dan elektrolit pada tubuh,dengan Aktivitas :

  1. Sekresi elektrolit, hormon, dan enzim yang digunakan dalam pemecahan materi yang dimakan.
  2. Gerakan terhadap produk yang dimakan.
  3. Pencernaan makanan dan cairan.
  4. Absorpsi produk akhir ke dalam aliran darah.

Setelah mengetahui struktur dan fungsi dari saluran gastrointestinal, berikut ini akan dijelaskan tentang anatomi dan fisiologi dari organ yang erat kaitannya dengan metabolisme dan penyaringan bahan beracun dalam tubuh yaitu hati dan kandung empedu.

 

  1. 1.         Hati (Hepar)

Hati merupakan organ paling besar didalam tubuh kita, warnanya coklat dan beratnya ± 1 ½ kg. Letaknya di bagian atas dalam rongga abdomen disebelah kanan bawah diafragma. (Syaifuddin, 2002: halaman 178)

Hati terletak di belakang tulang-tulang iga (kosta) dalam rongga abdomen daerah kanan atas. Hati memiliki berat sekitar 1500 g, dan di bagi menjadi 4 lobus. Setiap lobus hati terbungkus oleh lapisan tipis jaringan ikat yang  membentang kedalam lobus itu sendiri dan membagi masa hati menjadi unit- unit yang lebih kecil, yang disebut lobulus.(Syaifuddin 2002 : halaman167)

 

 

 

 

 

Gambar 2.2. Anatomi Hati

( Frederic.16042003,http://www.wikipedia.com

                        diambil tanggal 18 Juni 2012)

Sirkulasi darah ke dalam dan keluar hati sangat penting dalam penyelenggaraan fungsi hati. Darah yang mengalir kedalam hati berasal dari dua sumber. Kurang lebih 75% suplai darah datang dari vena porta yang mengalirkan darah yang kaya akan nutrien dari traktus gastrointestinal. Bagian lain suplai darah tersebut masuk kedalam hati lewat arteri hepatika dan banyak mengandung oksigen cabang- cabang terminalis kedua pembuluh darah ini bersatu membentuk capillary beds bersama yang merupakan sinusoid hepatik. Dengan demikian, sel- sel hati (hepatosit) akan terendam oleh campuran darah vena dan arterial. Sinusoid mengosongkan isinya kedalam venule yang yang berada pada bagian tengah masing- masing lobus hepatik dan dinamakan Vena sentralis. Vena sentralis bersatu membentuk vena hepatica yang merupakan drainase vena dari hati dan akan mengalirkan isinya kedalam vena kava inferior di dekat diafragma. Jadi, terdapat dua sumber yang mengalirkan darah masuk kedalam hati dan hanya terdapat satu lintasan keluarnya.Fungsi hati menurut Sylvia, et. all, (2006 : halaman 472) yaitu:

a. metabolisme lemak; penimbunan vitamin, besi, dan tembaga; konjugasi dan ekskresi steroid adrenal dan gonad, serta detoksifikasi sejumlah zat endogen dan eksogen.

b. Organ hati juga berfungsi sebagai “gudang darah” dan “penyaring” karena terletak strategis antara usus sirkulasi umum.

  1. Hati memegang peranan penting dalam metabolisme glukosa dan pengaturan gula kadar glukosa darah.
  2. Hati juga memegang peranan penting dalam metabolisme protein.
  3. Hati juga berperan aktif dalam metabolisme lemak.
  4. Penyaring dan pembuang bahan bahan beracun di dalam darah mealalui proses pembongkaran hemoglobin.
  5. Merubah amonia menjadi urea
  6. 2.         Kandung Empedu

Anatomi dan fisiologi kandung empedu di mulai dengan penjelasan mengenai struktur dari kandung empedu yang kemudian dilanjutkan dengan penjelasan fungsi kandung empedu tersebut.

  1. Struktur Kandung Empedu

Kandung empedu merupakan kantong berongga berbentuk per yang terletak tepat di bawah lobus kanan hati.Empedu yang disekresi terus menerus oleh hati masuk ke saluran empedu yang kecil dalam hati.Saluran empedu yang kecil bersatu membentuk dua saluran lebih besar yang keluar dari permukaan bawah hati sebagai duktus hepatikus kanan dan kiri, yang segera bersatu membentuk duktus hepatikus komunis.Duktus hepatikus bergabung dengan duktus sistikus membentuk duktus koledukus.Pada banyak orang, duktus koledukus bersatu dengan duktus pankreatikus membentuk ampula Vateri (bagian duktus yang melebar pada tempat menyatu) sebelum bermuara ke usus halus. Bagian terminal dari kedua saluran dan ampula dikelilingi oleh serabut otot sirkular yang dikenal sebagai sfingter Oddi (Sylvia, et. all, 2006 : halaman 472).

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.3. Anatomi Empedu

( Frederic.16042003,http://www.wikipedia.com

diambil tanggal 18juni 2012)

  1. Fungsi Kandung Empedu

Kandung empedu berfungsi menyaring dari metabolisme yang masuk di hati untuk di proses kebutuhan tubuh. Diantara saat- saat makan, ketika sfingter Oddi tertututp.empedu yang diproduksi oleh hepatosit akan memasuki kandung empedu. Selama penyimpanan, sebagian besar air dalam empedu.diserap melalui dinding kandung empedu sehingga empedu dalam kandung empedu lebih pekat lima hingga sepuluh kali dari konsentrasi saat disekresikan pertama kalinya oleh hati. Ketika makanan masuk kedalam duodenum akan terjadi kontarksi kandung empedu dan relaksasi sfingter Oddi yang memungkinkan empedu mengalir masuk kedalam intestinal. Respons ini diantarai oleh sekresi hormon kolesis-tokinin-pankreozimin (CCK-PZ) dari dinding usus. (Syilvia A.Price, 2003, halaman 1152)

 

  1. B.       Konsep Dasar Hepatitis

Menurut Nia Kurniasih, (2009 : halaman 647) Hepatitis virus akut  merupakan infeksi sistemik yang dominan menyerang hati. Hepatitis virus akut disebabkan oleh salah satu dari limajenis virus yaitu  dibagi menjadi 5 jenis yaituHepatitis A (HAV : Hepatitis Infeksi), Hepatitis B (HBV : Serum Hepatitis),Hepatitis C (HCV : non-A : non-B), Hepatitis D (HDV : Delta Hepatitis), Hepatitis E (HEV).

Berikut ini akan dibahas tentang pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan laboratorium, penatalaksanaan dan komplikasi Hepatitis.

1        Pengertian

Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan inflamasi pada sel-sel hati yang menghasilkan kumpulan perubahan klinis, biokimia serta seluler yang khas.(Suzanne, et al. 2002 : 1169)

Hepatitis adalah suatu peradangan pada hati ( Rafelina, 2009 : 64)

Hepatitis adalah proses nekroinflomatorik pada hati yang terjadi secara akut dan sebabkan oleh Hepatitis B Virus (HBV).(Soemoharjo, 2008 : halaman 35 )

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Hepatitis adalah suatu penyakit infeksi dan kerusakan akibat radang  pada jaringan hati yang menyebabkan gangguan fungsi.

 

2      Etiologi

Secara umum menurut Soemoharjo, ( 2008 : halaman 20 ) agen penyebab hepatitis virus dapat diklasifikasikan kedalam dua grup:

  1. Hepatitis dengan transmisi secara enterik yaitu : Penularan horizontal dapat terjadi melalui kulit atau melalui selaput lender.
  2. Hepatitis dengan transmisi melalui darah yaitu : terjadi dari seorang pengidap yang hamil kepada bayi yang dilahirkannya.

 

3      Manifestasi klinis

Menurut Lucman (1993 : halaman 1704) masa inkubasi penyakit Hepatitis B ialah 25 – 150 hari.

Menurut Mansjoer (2001 : halaman 513) manifestasi klinis pasien dengan Hepatitis B di bagi menjadi beberapa stadium yaitu :

 

 

  1. Stadium praikterik

Berlangsung selama 4-7 hari. Pasien mengeluh sakit kepala, anoreksia, mual, muntah, demam, nyeri pada otot, dan nyeri di perut kanan atas. Urin menjadi lebih coklat.

  1. Stadium ikterik

Berlangsung selama 3-6 minggu. Ikterus mula-mula terlihat pada sklera, kemudian pada kulit seluruh tubuh. Keluhan-keluhan berkurang, tetapi pasien masih lemah, anoreksia dan muntah. Tinja mungkin berwarna kelabu atau kuning muda. Hati membesar dan nyeri tekan.

  1. Stadim pasca ikterik

Ikterus mereda, warna urin dan tinja menjadi normal lagi.

 

4      Patofisiologi

Virus Hepatitis yang menyerang hati menyebabkan peradangan dan infiltrasi pada hypatocytes oleh sel mononuclear. Proses ini dapat menyebabkan degenerasi dan nekrosis sel parenchyma hati.
 Respon peradangan menyebabkan pembengkakan dan memblokir system drainage hati, sehingga terjadi destruksi pada sel hati. Keadaan ini menjadikan statis empedu (biliary), dan empedu tidak dapat di ekskresikan ke dalam kantong empedu dan bahkan ke dalam usus sehingga meningkat dalam darah sehingga hyperbilirubinemia dalam urine sebagai urobilinogen dan kulit hepatoceluler jaundece.
 Hepatitis terjadi dari yang asymtomatic sampai dengan timbulnya sakit dengan gejala ringan, sel hati mengalami regenerasi secara komplit dalam 2–3 bulan, lebih gawat bila dengan nekrosis sel hati dan bahkan kematian. Hepatitis dengan sub akut dan kronik dapat permanen dengan terjadinya gangguan pada fungsi hati. Individu yang dengan kronik akan sebagai carrier penyakit dan resiko berkembang menjadi penyakit kronik hati atau kanker hati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Skema 2 : 1 Proses perjalanan Penyakit hepatitis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Andi Sanityoso, 2009

5.  Komplikasi

Menurut Price ( 2002  : halaman 143 ) komplikasi Hepatitis virus paling sering di jumpai adalah perjalanan penyakit yang memanjang hingga 4 sampai 8 bulan. Keadaan ini dikenal dengan Hepatitis Kronik Persisten, dan terjadi pada 5% – 10% pasien. Sekitar 5% Hepatitis virus akan mengalami kesembuhan setelah serangan awal. Setelah Hepatitis virus akut, sejumlah kecil pasien akan mengalami Hepatitis agresif atau kronik aktif, dimana terjadi kerusakan hati seperti di gerogoti dan perkembangan sirosis dan untuk penderita anak – anak komplikasi yang timbul adalah :

  1. Gangguan fungsi hati
  2.  Penyakit kronik hati seperti cirosis atau hepatitis kronik persisten.
  3. Carsinoma hepatik.
  4. Kematian karena fungsi hati.

 

  1. 7.      Pemeriksaan Diagnostik

Menurut Doengoes ( 1999 : halaman 535) ada beberapa Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan untuk menegakan diagnosa Hepatitis dan akibat lanjut dari proses penyakit. Riwayat klinis dan pemeriksaan fisik mendetail akan mengarah pada hepatitis  yaitu :

  1. Transminase yang sangat meningkat ( SGPT atau SGOT > 1000 iu/l).
  2. Waktu protrombin memanjang
  3. Kadar bilirubin meningkat dari keadaan normal.
  4. LED (Laju endap darah) naik.
  5. Tes fungsi hati : menunjukkan gambaran hepatitis non spesifik 
  6. Darah lengkap : Sel Darah Merah (SDM) menurun sehubungan dengan penurunan hidup SDM ( ganguan enzim hati) atau mengakibatkan perdarahan.
  7. Leucopenia : Trombisitopenia mungkin ada.
  8. Alkali fosfate : Agak meningkat (kecuali ada kolestasis berat).
  9. Feses : Warna pucat, steatorea ( penurunan fungsi hati).
  10. Albumin serum : menurun.
  11. Gula darah : Hiperglikemia Transien/ Hipoglikemia (ganguan fungsi hati).
  12. Bilirubin serum : Di atas 2,5 mg/100 ml (bila di atas 200 mg/ml, prognosis buruk mungkin berhubungan dengan peningkatan nekrosis seluler).
  13. Urinalisa : Peninggian kadar bilirubin; protein /hematuria dapat terjadi.
  14. Biopsi hati : Menunjukkan diagnosis dan luasnya nekrosis.
  15. Scan hati : Membantu dalam perkiraan beratnya kerusakan parenkim. 

 

 

 

  1. 8.      Pencegahan dan Penatalaksanaan

Pencegahan untuk penyakit Hepatitis bagi orang yang berisiko (misalnya pekerja kesehatan) harus diimunisasi. Karier virus yang diketahui harus memahami risikonya bagi orang lain bila terpapar cairan tubuh dan harus menggunakan kontrasepsi penghalang. (Patrick, 2005 : halaman 224).

Penatalaksanaan terhadap pasien Hepatitis terdiri dari istirahat, diet, dan pengobatan medikamentosa (Mansjoer, 2001 : halaman 514) adalah sebagai berikut :

  1. Istirahat

Pada periode akut dan dalam keadaan lemah, pasien Hepatitis diharuskan untuk istirahat yang cukup karena pada kondisi-kondisi tertentu klien akan merasakan keletihan. Istirahat mutlak tidak terbukti dapat mempercepat penyembuhan, akan tetapi istirahat dapat membantu memperkecil kemungkinan gangguan fungsi hati yang lebih serius.

  1. Diet

Jika pasien mual, tidak nafsu makan atau muntah-muntah, sebaiknya diberikan infuse. Jika tidak mual lagi, diberikan makanan yang cukup kalori (30-35 kalori/kg BB) dengan protein cukup (1 g/Kg BB).Pemberian lemak sebenarnya tidak perlu dibatasi.Dahulu ada kecenderungan untuk membatasi lemak, karena disamakan dengan penyakit kandung empedu.

 

  1. Medikamentosa

Penatalaksanaan medikamentosa terhadap pasien Hepatitis ialah:

1)      Kortikosteroid tidak diberikan bila untuk mempercepat penurunan bilirubin darah. Kortikosteroid dapat digunakan pada kolestasis yang  berkepanjangan, dimana transaminase serum sudah kembali normal tetapi bilirubin masih tinggi. Pada keadaan ini dapat diberikan prednison 3 x 10 mg selama 7 hari kemudian dilakukan tapering off.

2)      Berikan obat-obat yang bersifat melindungi hati.

3)      Antibiotik tidak jelas kegunaannya.

4)      Jangan diberikan antiemetic jika perlu sekali dapat diberikan golongan fenotiazin.

5)      Vitamin K diberikan pada kasus dengan kecenderungan perdarahan. Bila pasien dalam keadaan prekoma atau koma, penanganan seperti pada koma hepatik.

 

  1. C.      Asuhan Keperawatan pada Klien Hepatitis

Di dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan masalah Hepatitis, penulis menggunakan pendekatan proses keperawatan teoritis. Teori dan konsep diimplementasikan secara terpadu dalam tahapan-tahapan yang terintegrasi dan terorganisir yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi( Sumarwati, 2009: halaman 187 ).

Link | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s