askep nyeri dg fraktur tibia

askep nyeri akut dg fraktur tibia

BAB II
LANDASAN TEORITIS

       Landasan teoritis berisi hasil penelusuran literatur atau studi kepustakaan mengenai masalah yang dibahas dan konsep serta teori yang melandasi penyelesaian masalah. Pendekatan yang digunakan adalah nyeri akut berhubungan dengan fraktur tibia yang dialami klien selama masa perawatan dua hari.

 

  1. A.   Definisi Nyeri

       Nyeri akut adalah pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dengan istilah seperti; awitan yang tiba-tiba, atau perlahan perlahan dengan intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan (Wilkinson & Ahern, 2012).

       Rasa nyeri merupakan mekanisme pertahanan tubuh; rasa nyeri timbul bila ada jaringan yang rusak, dan hal ini akan menyebabkan individu bereaksi dengan cara memindahkan stimulus nyeri (Guyton & Hall, 2005).

       Nyeri akut adalah keadaan ketika individu mengalami dan melaporkan adanya rasa ketidaknyamanan yang hebat atau sensasi yang tidak menyenangkan selama enam bulan atau kurang (Carpenitto & Moyet, 2007).

 

  1. B.   Pengkajian

       Adapun asuhan keperawatan diuraikan mulai dan pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi keperawatan serta evaluasi (Muttaqin, 2008).

       Menurut Wilkinson, (2007) “fase pengkajian mempunyai komponen penting yaitu mengumpulkan data, memvalidasi data, mengorganisasi data dan menulis data”.

  1. Tanda dan gejala mayor

       Pengungkapkan tentang deskriptor nyeri.

  1. Tanda dan gejala minor
    1. Mengatupkan rahang atau mengepalkan tangan.
    2. Perubahan kemampuan untuk melanjutkan aktivitas sebelumnya.
    3. Agitasi.
    4. Ansietas.
    5. Peka rangsang.
    6. Menggosok bagian yang nyeri.
    7. Mengorok.
    8. Postur tidak biasanya(lutut ke abdomen).
    9. Ketidakefektifan fisik atau mobilitas.
    10. Ganguan konsentrasi.
    11. Perubahan pada pola tidur.
    12. Rasa takut mengalami cedera ulang.

 

  1. C.   Patofisiologi
    1. Penyebab

       Sebagian besar patah tulang merupakan akibat dari cedera, seperti kecelakaan mobil, olah raga atau karena jatuh. Patah tulang terjadi jika tenaga yang melawan tulang lebih besar dari pada kekuatan tulang. Jenis dan beratnya patah tulang dipengaruhi oleh:

  1. Arah, kecepatan dan kekuatan dari tenaga yang melawan tulang.
  2. Usia penderita.
  3. Kelenturan tulang dan jenis tulang.
  4. Proses terjadinya masalah

       Terjadinya trauma yang mengakibatkan fraktur akan dapat merusak jaringan lunak disekitar fraktur mulai dari otot fascia, kulit sampai struktur neuromuskuler atau organ-organ penting lainnya, pada saat kejadian kerusakan terjadilah respon peradangan dengan pembentukan gumpulan atau bekuan fibrin, osteoblas mulai muncul dengan jumlah yang besar untuk membentuk suatu metrix baru antara fragmen-fragmen tulang. Kiasifikasi terjadinya fraktur dapat dibedakan yang terdiri dari fraktur tertutup dan fraktur terbuka, fraktur tertutup yaitu tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan kulit, fraktur terbuka yaitu terdapat luka yang menghubungkan luka dengan kulit (Suriadi & Yuliani, 1995).

       Setelah terjadinya fraktur periosteum tulang terkelupas dari tulang dan darah keluar melalui celah-celah periosteum dan ke otot di sekitarnya dan disertai dengan oedema, selain keluar melalui celah periosteum yang rusak, darah juga keluar akibat terputusnya pembuluh darah di daerah terjadinya fraktur.

       Infiltrasi dan pembengkakan segera terjadi dan bertambah selam 24 jam pertama, menjelang akhir periode ini otot menjadi hilang elastisitasnya, oleh karena itu reposisi lebih mudah dilakukan selama beberapa jam setelah cedera, setelah dilakukan reposisi atau immobilitas maka pertumbuhan atau penyatuan tulang dimulai dengan pembentukan kallus (Sjamsuhidajat & wim de jong, 1998).

 

 

 

 

 

 

 

 

           
     
 
   
 
     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1.  Akibat yang Timbul dari Masalah
    1. Sindrom emboli lemak

       Sindrom emboli lemak merupakan keadaan pulmunori akut dan dapat menyebabkan kondisi fatal. Hal ini terjadi ketika gelembung-gelembung lemak terlepas dari sumsum tulang dan mengelilingi jaringan yang rusak.

1)      Sindrom kompartemen

       Komplikasi ini terjadi saat peningkatan tekanan jaringan dalam ruang tertutup diotot, yang sering berhubungan dengan akumulasi cairan sehingga menyebabkan hambatan aliran darah yang berat dan berikutnya menyebabkan kerusakan pada otot.

2)      Osteomyelitis

       Adalah infeksi dari jaringan tulang dapat berupa exogenous (infeksi masuk dan luar tubuh) atau hematogenous (infeksi yang berasal dari dalam tubuh).

3)      Gas ganggren

       Gas ganggren berasal dari infeksi yang disebabkan oleh bakterium saprophstik gram positif anaerob yaitu antara lain Clostridium welchi. Clostridium biasanya akan tumbuh pada luka dalam yang mengalami perubahan suplai oksigen karena trauma.

  1. Komplikasi lanjut

       Menurut Rasjad dan Chairuddinm, (2003:

1)      Penyembuhan fraktur yang abnormal

a)   Malunion

b)   Delayed union

c)    Nonunion

2)  Gangguan pertumbuhan oleh karena adanya trauma pada lempeng epifisis.

       Gangguan lempeng epifisis karena trauma dapat mengenai sebagian lempeng epifisis dengan akibat pertumbuhan yang lebih pada satu sisi dibanding dengan sisi lain berupa deformitas valgus atau varus pada sendi yang terkena.

3)  Atrofi sudeck

       Komplikasi ini biasanya ditemukan akibat kegagalan penderita untuk mengembalikan fungsi normal tangan atau kaki setelah penyembuhan trauma.

 

 

 

 

 

  1. D.     Diagnosa Keperawatan

       Masalah keperawatan utama pada fraktur tibia, baik fraktur tibia terbuka maupun tertutup (Muttaqin, 2008) adalah sebagai berikut:

  1.   Nyeri akut adah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa (International Association for The Study of Pain) ; Awitan yag tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung <6 bulan (NANDA, 2012).
  2.   Hambatan mobilitas fisik adalah keterbatasan pada pergerakan fisik tubuh atau satu atau lebih ekstremitas secara mandiri dan terarah (NANDA, 2011).
  3.   Defisit perawatan diri: mandi adalah hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan mandi/aktivitas perawatan diri untuk diri sendiri (NANDA, 2011).
  4.   Risiko infeksi adalah mengalami peningkatan risiko terserang organisme patogenik (NANDA, 2011).
  5.   Defisiensi pengetahuan adalah ketiadaan atau defisiensi informasi kognitif yang berkaitan dengan topik tertentu (NANDA, 2011).

 

  1. E.   Perencanaan

       Perencanaan keperawatan pada diagnosa keperawatan nyeri, hambatan mobilitas fisik, defisit perawatan diri, resiko infeksi dan defisit pengetahuan menurut Wilkinson, (2007), yaitu:

  1. Nyeri  akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, dan cedera pada jaringan lunak.

Tujuan: Tingkat Nyeri: Efek merusak, dibuktikan dengan indikator berikut (sebutkan nilainya 1-5: ekstrem, berat, sedang, ringan atau tidak ada). Ekspresi lisan atau pada wajah, posisi tubuh melindungi, kegelisahan atau ketegagan otot, perubahan dalam

 

mw lebih lengkap di link ini:

http://www.ziddu.com/download/20979559/babii.doc.html

 

 

Link | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s