askep BPH

BAB  II

LANDASAN TEORITIS

Penulis pada bab ini akan membahas mengenai anatomi fisiologi sistem perkemihan, konsep dasar dan asuhan keperawatan teoritis dengan Benigna Prostat Hiperplasia.

A . Anatomi dan Fisiologi Sistem Perkemihan

  1. Ginjal
                            Ginjal  suatu kelenjar yang terletak di bagian belakang kavum abdominalis di belakang peritonium pada kedua sisi vertebra lumbalis Ill, melekat langsung pada
    (dinding belakang abdomen. Bentuk ginjal seperti biji kacang, jumlahnya ada dua kiri dan kanan, ginjal kiri lebih desar dari ginjal kanan dan pada umumnya laki-laki lebih panjang dari ginjal wanita. (Syaifuddin, 2006, hlm. 235)

 

7

 

Fungsi vital ginjal ialah sekresi air kemih dan pengeluarannya dari tubuh manusia. Di samping itu, ginjal juga merupakan salah satu mekanisme terpenting homestasis. Ginjal berperan penting dalam pengeluaran zat- zat toksin/ racun. Memperlakukan suasana keseimbangan air, mempertahankan keseimbangan asam basa cairan tubuh, mempertahankan keseimbangan garam-garam dan zat lain di dalam darah. (Harnowo dan Susanto, 2002, hlm. 32)

 

  1. Ureter.

Ureter terdiri dari 2 saluran pipa, masing-masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria),panjang kurang lebih 25-30 cm, dengan penampang kurang lebih 0,5 cm.  Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis.  Dinding ureter terdiri atas tiga lapisan, yaitu lapisan mukosa, otot polos, dan jaringan fibrosa. (Syaifuddin, 2006, hlm. 241).

            Fungsi ureter yaitu mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesika urinaria) yang ditimbulkan oleh gerakan-gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis masuk ke kandung kemih (Syaifuddin, 2006, hlm. 241).

  1. Vesika urinaria

Kandung kemih (vesika urinaria ) merupakan kantong yang  dapat mengelembung seperti balon karet, terletak di belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul. 

Kandung kemih (vesika urinaria) berfungsi menampung urine, bila terisi penuh.  Kandung kemih akan terlihat sebagian keluar dari rongga panggul. Kandung kemih berbentuk seperti kerucut, bagian-bagiannya ialah verteks (bagian memancung ke arah muka), fundus (bagian menghadap ke arah belakang dan bawah), dan korpus (bagian antara verteks dan fundus).  Dinding kandung kemih terdiri dari tiga lapisan otot polos dan selapis mukosa yang berllipat-lipat (Syaifuddin, 2006, hlm. 244).

  1. Uretra

Pada laki-laki uretra berjalan berkelok-kelok melalui tengah-tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis ke bagian penis, panjang uretra kurang lebih 20 cm.

Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar dan juga untuk menyalurkan semen. Pengeluaran urin tidak bersamaan dengan ejakulasi karena diatur oleh kegiatan kontraksi prostat  (Harnowo dan Susanto, 2002, hlm. 35).

Uretra adalah sebuah saluran yang berjalan dari leher kandung kemih kelubang luar, dilapisi oleh membran mukosa yang bersambung dengan membran  yang melapisi kandung kemih, meatus urinarius terdiri atas serabut otot melingkar, membentuk sfingter uretra. Panjang uretra pada wanita  sekitar 2,5-3,5 cm sedangkan pada pria 17-22,5 cm (Nursalam, 2006, hlm 6)

5.  Kelenjar prostat

Kelenjar prostat adalah salah satu organ genetalia pria yang terletak dibawah vesika urinaria dan membungkus uretra posterior (belakang).  Bila mengalami pembesaran, organ ini membuntu uretra pars prostatika dan  menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari buli-buli.

Kelenjar prostat adalah salah satu organ genetalia pria yang terlatak di sebelah inferior buli-buli dan membungkus uretra posterior (Purnomo, 2003, hlm 69).

Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa kurang lebih 20 gram.  Kelenjar prostat di bagi dalam beberapa zona, yaitu zona perifer, sentral, transisional, fibromuskuler anterior, dan periuretra (Nursalam, 2006, hlm.125).

Pada usia lanjut, beberapa pria mengalami pembesaran prostat. Keadaan ini dialamai oleh 50% pria yang berusia 60 tahun dan kurang lebih 80%  pria yang berusia 80 tahun (Nursalam, 2006, hlm.126).

 

  1. B.       Konsep Dasar Penyakit

Berikut ini akan di bahas konsep dasar penyakit yang meliputi

pengertian, etilogi, patofisiologi, gejala Benigna Prostat Hiperplasia, derajat Benigna Prostat Hiperplasia, komplikasi dan pemeriksaan penunjang, serta penatalaksanaan medis.

 

  1. Pengertian

Benigna Hiperplasia Prostat adalah pembesaran prostat sehingga membuntu urtetra pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari buli buli (Purnomo, 2003, hlm 69).

              Benigna Hiperplasia Prostat adalah pembesaran prostat yang mengenai uretra, menyebabkan gejala urinaria (Nursalam, 2006, hlm.135).

Benigna Hiperplasia Prostat suatu kaadaan dimana terjadinya pembesaran kelenjar prostat, memanjang ke atas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urine dengan menutupi orifisium uretra
(Smeltzer, 2002, hlm. 1625).

            Dari beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa benigna prostat hyperplasia adalah terjadinya pembesaran kelenjar prostat sehingga menutupi saluran kemih dan menyebabkan retensi urine pada penderitanya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.1

                       

Gambar: 2.1 Benigna Prostat Hiperplasia (Kumar et all,2007)

 

 

 

 

  1. 2.   Etiologi

 Menurut Purnomo,( 2003 hlm 70-72) Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperlasia prostat tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasi prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrolesteron (DHT) dan proses aging (menjadi tua) yaitu:

 

 

  1. Teori Dihydro Testosteron (DHT)

Testosteron yang dihasilkan oleh sel leyding pada testis (90%) dan sebagian dari kelenjar adrenal (10%) masuk dalam peredaran darah dan 98% akan terikat oleh globulin menjadi sex hormon binding globulin (SHBG). Sedang hanya 2% dalam keadaan testosteron bebas. Testosteron bebas inilah yang bisa masuk ke dalam  target cell  yaitu sel prostat melewati membran sel langsung masuk kedalam sitoplasma, di dalam sel testosteron direduksi oleh enzim 5 alpha redustase menjadi 5 dyhirdo testosteron yang kemudian bertemu dengan reseptor sitoplasma menjadi hormone receptor complex. Kemudian hormone receptor complex  ini mengalami transformasi reseptor menjadi  nuclear receptor  yang masuk kedalam inti yang kemudian melekat pada chromatin dan menyebabkan transkripsi m-RNA ini akan menyebabkan sintesa protein menyebabkan terjadinya pertumbuhan kelenjar prostat.

 

  1. Teori adanya ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron

Teori ini dibuktikan bahwa sebelum pubertas dilakukan kastrasi maka tidak terjadi BPH, juga terjadi regresi BPH bila dilakukan kastrasi. Selain androgen (testosteron/DHT), estrogen juga berperan untuk terjadinya BPH. Dengan bertambahnya usia akan terjadi perubahan keseimbangan hormonal, yaitu antara hormon testosteron dan hormon estrogen, karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi testosteron menjadi estrogen pada  jaringan adiposa di perifer dengan pertolongan enzim aromatase, dimana sifat estrogen ini akan merangsang terjadinya hiperplasi pada stroma, sehingga timbul estrogenlah yang berperan untuk perkembangan stroma. Kemungkinan lain ialah perubahan konsentrasi relatif testosteron dan estrogen akan menyebabkan produksi dan potensiasi faktor pertumbuhan lain yang dapat menyebabkan terjadinya pembesaran prostat.

Dari berbagai percobaan dan penemuan klinis dapat diperoleh kesimpulan, bahwa dalam keadaan normal hormon gonadotropin hipofise akan menyebabkan produksi hormon androgen testis yang akan mengontrol pertumbuhan prostat. Dengan makin bertambahnya usia, akan terjadi penurunan dari fungsi testikuler (spermatogenesis) yang akan menyebabkan penurunan yang progresif dari sekresi androgen. Hal ini mengakibatkan hormon dari fungsional histologis, prostat terdiri dari dua bagian yaitu sentral sekitar urtar yang bereaksi terhadap estrogen dan bagian perifer yang tidak bereaksi terhadap estrogen.

Pada BPH lebih sensitif terhadap DHT sehingga replikasi sel lebih banyak terjadi dibandingkan ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron. Pada usia yang semakin tua, kadar testosteron menurun, sedangkan kadar estrogen relatif tetap sehingga perbandingan antara estrogen testosteron relatif meningkat. Telah diketahui bahwa estrogen di dalam prostat berperan dalam terjadinya profilerasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara meingkatkan sensitifitas sel prostat terhadap rangsangan hormon endrogen, meningkatkan jumlah reseptor  androgen dan menurunkan jumlah kematian sel prostat.

  1. Intraksi Stroma – Epitel

Sel-sel stroma mendapatkan stimulasi dari DHT dan estradiol, sel-sel stroma mensintesis suatu growth faktor yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel stroma itu sendiri secara intrakrin dan atuokrin, serta mempengaruhi sel-sel epitel secara parankin. Stimulasi itu menyebabkan terjadinya proliferasi sel-sel epitel maupun sel stroma.

 

  1. Berkurangnya Kematian Sel Prostat

Berkurangnya kematian sel (apoptosis) pada sel prostat adalah mekanisme fisiologik untuk mempertahankan homeostatis kelenjar prostat. Berkurangnya jumlah sel prostat yang mengalami apoptosis menyebakan jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan menjadi meningkat sehingga menyababkan pertambahan prostat.

 

  1. Teori Sel Stem

Untuk mengganti sel-sel yang telah mengalami apotesis, selalu dibentuk sel baru. Di dalam kelenjar prostat dikenal suatu sel stem, yaitu sel yang mempunyai kemampuan berproliferasi sangat ekstensif. Terjadinya proliferasi sel-sel pada Benigna Prostat Hiperplasi dipostulisakan sebagai ketidak tepatnya  aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi yang berlebihan sel stroma maupun sel epitel.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 3.      Pathways

                Faktor Hormonal                                                                Hormon Estrogen

                      Meningkat                                                                            Meningkat

 

 

                                                              Benigna Prostat

                                                                 Hyperplasia

 

 

                                                                Penyempitan

                                                               Lumen Uretra

 

 

                     Pengeluaran                    Obstruksi dan

                   Bardkinin dan                          Iritan

                       Serotonin

                               

 

                        Hypoxia                     Urine tertahan di

                        Jaringan                      Vesika Uninaria

 

 

                                                                Refluks urine

 

 

                  Vesika Urinaria                         Ureter                                         Ginjal

 

 

             Kontraksi Meningkat                  Uretritis                           Urine Terakumulasi

 

 

                 Refluksi urine ke

                           Ureter

 

 

                   Infeksi (systis)

 

 

Patofisiologi BPH (Barbara C. Long, 2005)

 

 

 

 

  1. 5.      Manifestasi Klinis

            Manifestasi Klinis Benigna prostat hiperplasi biasanya ditemukan pada pria usia di atas 50 tahun menurut Nursalam, (2006, hlm 128) gejala sebagai berikut:

  1. Gejala Obstruksi

Biasanya di tandai dengan  terjadinya Hesitansi, Pancaran miksi lemah dan frekuensinya Intermitten  merasa tidak puas setelah miksi dan adanya tetesan setelah miksi

  1. Gejala iritatif

Adanya perubahan Frekuensi berkemih, terjadi nokturi, urgensi, dan disuria.

 

  1. 6.      Komplikasi

Komplikasi yang terjadi pada umumnya karena tindakan pembedahan yang diberikan dengan prostalektomi (pengangkatan kelenjar  sebagian atau seluruhnya) bergantung pada jenis pembedahan dan mencakup hemoragi, pembentukan bekuan obstruksi kateter dan disfungsi seksual.

Kebanyakan prostatektomi tidak menyebabkan impotensi (meskipun protalektomi perineal dapat menyebabkan impotensi akibat kerusakan saraf pudendal yang tidak dapat dihindari).

Bagi klien yang tidak ingin untuk kehilangan aktivitas seksualnya, umpan prostetik penis mungkin digunakan untuk membuat penis menjadi kaku guna keperluan hubungan seksual.

 

  1. Pemeriksaan Penunjang

Menurut Reksoprasodjo, (2003, hlm 166) Pada saat sekarang pemeriksaan  prostat dapat dilakukan berbagai cara dengan tujuan  untuk menegakkan diagnosis BPH dilakukan beberapa cara antara lain:

  1. Pemeriksaan radiologik

Seperti foto polos perut dan Pyelografi Intra Vena yang sangat di kenal dengan istilah BNO dan IVP. Cara pemeriksaan ini dapat memberikan keterangan adaanya penyakit ikutan misalnya batu saluran kemih, sumbatan ginjal (hidronefrosis).

  1. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG).

Cara pemeriksaan ini untuk prostat hiperplasia dianggap sebagai pemeriksaan yang baik oleh karena ketepatannya dalam mendeteksi pembesaran prostat, tidak ada bahaya radiasi dan juga relatif murah. 

Pemeriksaan USG dapat dilakukan secara trans abdominal atau transrektal (TRUS = Tran Rectal Ultrasonografi).

 

 

  1. Pemeriksaan CT-Scanning dan Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Oleh karena pemeriksaan ini mahal dan keterangan yang diperoleh tidak terlalu banyak dibandingkan dengan pemeriksaan dengan cara yang lain maka cara ini dalam praktek jarang dipakai.

  1. Pemeriksaan sistoskopi

Sistoskopi sebaiknya dilakukan apabila pada anamesa ditemukan adanya hematuria (adanya darah dalam urin) atau pada pemeriksaan urine ditemukan adanya mikrohematuri, untuk mengetahui adanya kemungkinan tumor didalam vesika atau sumber perdarahan dari atas yang dapat dilihat apabila darah datang dari muara ureter,atau adanya batu kecil yang radiolusen didalam vesika.

 

  1. 8.      Penatalaksanaan Medis

             Penatalaksanaan terdapat 2 pendapat untuk yang pertama menurut Reksopradjo, (2003, hlm 166-168) yaitu:

  1. Penyakit Benigna Prostat Hiperplasia dapat diatasi dengan cara pembedahan sesuai dengan derajat seperti prostatektomi adalah pengangkatan kelenjar prostat sebagian atau seluruhnya. Beberapa prosedur digunakan untuk mengangkat kelenjar bagian prostat yang mengalami hipertropi yaitu:

 

1)      Penderita dengan derajat  satu

 Biasanya belum memerlukan tindakan operatif, dapat diberikan pengobatan  secara konservasif misalnya dengan diberikan alfa blocker sebaiknya yang selektif untuk (alfa 1) misalnya prazosin, atau terazosin 1 mg sampai 5 mg setiap hari.

2)   Penderita dengan derajat dua

Sebenarnya sudah ada indikasi untuk melakukan intervensi operatif, dan yang sampai sekarang masih di anggap sebagai cara memilih Trans Urethral Resection (TURP). Cara pengobatan ini meskipun masih memerlukan pembiusan dan merupakan tindakan yang invasif masih dianggap aman dan menurut pengalaman di Jakarta mortalitas TURP sekitar 1% dan morbiditas sekitar 7-8%.  Kadang-kadang derajat dua penderita masih belum mau dilakukan operasi, dalam keadaan seperti ini masih bisa dicoba dengan pengobatan konservatif.

3)   Penderita derajat tiga

TURP masih dapat dikerjakan oleh ahli urologi yang cukup berpengalaman melakukan TURP oleh karena biasanya pada derajat tiga ini besar prostat sudah lebih dari 60 gram.  Apabila diperkirakan prostat sudah cukup besar sehingga reseksi diperkirakan tidak akan selesai dalam 1 jam maka sebaiknya dilakukan operasi terbuka.

 

4)   Penderita derajat empat

Tindakan pertama yang harus segara dikerjakan ialah membebaskan penderita dari retensi urin total, dengan jalan memasang kateter atau memasang sistostomi setelah itu baru dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melengkapi diagnostik kemudian terapi definitif dapat dengan TURP satu operasi terbuka.

 

  1. Penyakit Benigna Prostat Hiperplasia dapat diatasi dengan cara pembedahan sesuai dengan derajat seperti prostelaktomi adalah pengangkatan kelenjar prostat sebagian atau seluruhnya (doengoes 2000, Hal 679).

1)   Trans Uretrhal Resection of the Prostate (TURP)

Jaringan prostat obstruksi dari lobus medial sekitar uretra di angkat dengan sistoskop/resektoskop dimasukan kedalam uretra.

2)   Suprapubic/Open Prostatectomy

Untuk masa lebih dari 60 g/60cc.  Penghambat jaringan prostat diangkat melalui insisi garis tengah bawah dibuat melalui kandung kemih.  Pendekatan ini lebih ditujukan bila ada batu kandung kemih.

 

 

 

 

3)   Retropubic Prostatectomy

Massa jaringan prostat hiperplasia (lokasi tinggi bagian pelvis) diangkat melalui insisi abdomen bawah tanpa pembukaan kandung kemih.

4)   Perineal Prostatectomy

Massa prostat besar dibawah area pelvis diangkat melalui insisi antara skrotum dan rektum.  Prosedur radikal ini dilakukan untuk kanker dan dapat mengakibatkan impotensi.

 

  1. C.    Asuhan Keperawatan BPH

Untuk melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan Benigna Prostat Hiperplasi digunakan pendekatan proses keperawatan yaitu suatu pendekatan sistemik, logis, dinamis dan teratur. Hal ini penting untuk mengidentifikasi masalah keperawatan klien yang bersifat bio-psiko, kultural dan spritual.

Adapun langkah-langkah dari proses keperawatan menurut Doengoes, (2000, hlm 671) adalah sebagai berikut:

  1. Pengkajian

            Kumpulan gejala pada BPH dikenal dengan LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms) antara lain : hisitansi, pancaran urin lemah, intermittens, terminal dribbling, terasa ada sisa setelah miksi disebut gejala obstruksi dan gejala iritatif. Berupa urgensi, frekuensi, frekuensi serta disuria. Data dasar pengkajian pasien diperoleh melalui:

Sirkulasi

Tanda          : Peningkatan TD (efek pembesaran ginjal)

Eliminasi

Gejala         : – Penurunan kekuatan otot / dorongan aliran urine

                        tetesan keragu-raguan pada berkemih awal

                     – Ketidakmampuan untuk mengabsorbsi kandung kemih dengan         lengkap, dorongan dan frekuensi berkemih.

                     – Nokturia, disuria, hematuria

                     – Duduk untuk berkemih

                     – LSK berulang, riwayat batu (stasis urinaria)

                     – Konstipasi (Prostrosi prostat kedalam rektum)

Tanda          :- Massa padat dibawah abdomen bawah kuadran                                 III dan IV (disertai kandung kemih)   nyeri tekan kandung   kemih

                        Hernia ingunalis hemoroid (mengakibatkan   peningkatan abdominal yang memerlukan             pengosongan kandung kemih mengatasi tahanan)

Makanan/cairan

Gejala         : – Anoreksia; Mual, Muntah

                      – Penurunan berat badan

Link | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s