askep atresia duodenum pada anak

askep atresia duodenum pada anak

http://www.ziddu.com/download/20979649/askepatresiaduodenum.pdf.html

Link | Posted on by | Leave a comment

askep nyeri dg fraktur tibia

askep nyeri akut dg fraktur tibia

BAB II
LANDASAN TEORITIS

       Landasan teoritis berisi hasil penelusuran literatur atau studi kepustakaan mengenai masalah yang dibahas dan konsep serta teori yang melandasi penyelesaian masalah. Pendekatan yang digunakan adalah nyeri akut berhubungan dengan fraktur tibia yang dialami klien selama masa perawatan dua hari.

 

  1. A.   Definisi Nyeri

       Nyeri akut adalah pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dengan istilah seperti; awitan yang tiba-tiba, atau perlahan perlahan dengan intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan (Wilkinson & Ahern, 2012).

       Rasa nyeri merupakan mekanisme pertahanan tubuh; rasa nyeri timbul bila ada jaringan yang rusak, dan hal ini akan menyebabkan individu bereaksi dengan cara memindahkan stimulus nyeri (Guyton & Hall, 2005).

       Nyeri akut adalah keadaan ketika individu mengalami dan melaporkan adanya rasa ketidaknyamanan yang hebat atau sensasi yang tidak menyenangkan selama enam bulan atau kurang (Carpenitto & Moyet, 2007).

 

  1. B.   Pengkajian

       Adapun asuhan keperawatan diuraikan mulai dan pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi keperawatan serta evaluasi (Muttaqin, 2008).

       Menurut Wilkinson, (2007) “fase pengkajian mempunyai komponen penting yaitu mengumpulkan data, memvalidasi data, mengorganisasi data dan menulis data”.

  1. Tanda dan gejala mayor

       Pengungkapkan tentang deskriptor nyeri.

  1. Tanda dan gejala minor
    1. Mengatupkan rahang atau mengepalkan tangan.
    2. Perubahan kemampuan untuk melanjutkan aktivitas sebelumnya.
    3. Agitasi.
    4. Ansietas.
    5. Peka rangsang.
    6. Menggosok bagian yang nyeri.
    7. Mengorok.
    8. Postur tidak biasanya(lutut ke abdomen).
    9. Ketidakefektifan fisik atau mobilitas.
    10. Ganguan konsentrasi.
    11. Perubahan pada pola tidur.
    12. Rasa takut mengalami cedera ulang.

 

  1. C.   Patofisiologi
    1. Penyebab

       Sebagian besar patah tulang merupakan akibat dari cedera, seperti kecelakaan mobil, olah raga atau karena jatuh. Patah tulang terjadi jika tenaga yang melawan tulang lebih besar dari pada kekuatan tulang. Jenis dan beratnya patah tulang dipengaruhi oleh:

  1. Arah, kecepatan dan kekuatan dari tenaga yang melawan tulang.
  2. Usia penderita.
  3. Kelenturan tulang dan jenis tulang.
  4. Proses terjadinya masalah

       Terjadinya trauma yang mengakibatkan fraktur akan dapat merusak jaringan lunak disekitar fraktur mulai dari otot fascia, kulit sampai struktur neuromuskuler atau organ-organ penting lainnya, pada saat kejadian kerusakan terjadilah respon peradangan dengan pembentukan gumpulan atau bekuan fibrin, osteoblas mulai muncul dengan jumlah yang besar untuk membentuk suatu metrix baru antara fragmen-fragmen tulang. Kiasifikasi terjadinya fraktur dapat dibedakan yang terdiri dari fraktur tertutup dan fraktur terbuka, fraktur tertutup yaitu tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan kulit, fraktur terbuka yaitu terdapat luka yang menghubungkan luka dengan kulit (Suriadi & Yuliani, 1995).

       Setelah terjadinya fraktur periosteum tulang terkelupas dari tulang dan darah keluar melalui celah-celah periosteum dan ke otot di sekitarnya dan disertai dengan oedema, selain keluar melalui celah periosteum yang rusak, darah juga keluar akibat terputusnya pembuluh darah di daerah terjadinya fraktur.

       Infiltrasi dan pembengkakan segera terjadi dan bertambah selam 24 jam pertama, menjelang akhir periode ini otot menjadi hilang elastisitasnya, oleh karena itu reposisi lebih mudah dilakukan selama beberapa jam setelah cedera, setelah dilakukan reposisi atau immobilitas maka pertumbuhan atau penyatuan tulang dimulai dengan pembentukan kallus (Sjamsuhidajat & wim de jong, 1998).

 

 

 

 

 

 

 

 

           
     
 
   
 
     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1.  Akibat yang Timbul dari Masalah
    1. Sindrom emboli lemak

       Sindrom emboli lemak merupakan keadaan pulmunori akut dan dapat menyebabkan kondisi fatal. Hal ini terjadi ketika gelembung-gelembung lemak terlepas dari sumsum tulang dan mengelilingi jaringan yang rusak.

1)      Sindrom kompartemen

       Komplikasi ini terjadi saat peningkatan tekanan jaringan dalam ruang tertutup diotot, yang sering berhubungan dengan akumulasi cairan sehingga menyebabkan hambatan aliran darah yang berat dan berikutnya menyebabkan kerusakan pada otot.

2)      Osteomyelitis

       Adalah infeksi dari jaringan tulang dapat berupa exogenous (infeksi masuk dan luar tubuh) atau hematogenous (infeksi yang berasal dari dalam tubuh).

3)      Gas ganggren

       Gas ganggren berasal dari infeksi yang disebabkan oleh bakterium saprophstik gram positif anaerob yaitu antara lain Clostridium welchi. Clostridium biasanya akan tumbuh pada luka dalam yang mengalami perubahan suplai oksigen karena trauma.

  1. Komplikasi lanjut

       Menurut Rasjad dan Chairuddinm, (2003:

1)      Penyembuhan fraktur yang abnormal

a)   Malunion

b)   Delayed union

c)    Nonunion

2)  Gangguan pertumbuhan oleh karena adanya trauma pada lempeng epifisis.

       Gangguan lempeng epifisis karena trauma dapat mengenai sebagian lempeng epifisis dengan akibat pertumbuhan yang lebih pada satu sisi dibanding dengan sisi lain berupa deformitas valgus atau varus pada sendi yang terkena.

3)  Atrofi sudeck

       Komplikasi ini biasanya ditemukan akibat kegagalan penderita untuk mengembalikan fungsi normal tangan atau kaki setelah penyembuhan trauma.

 

 

 

 

 

  1. D.     Diagnosa Keperawatan

       Masalah keperawatan utama pada fraktur tibia, baik fraktur tibia terbuka maupun tertutup (Muttaqin, 2008) adalah sebagai berikut:

  1.   Nyeri akut adah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa (International Association for The Study of Pain) ; Awitan yag tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung <6 bulan (NANDA, 2012).
  2.   Hambatan mobilitas fisik adalah keterbatasan pada pergerakan fisik tubuh atau satu atau lebih ekstremitas secara mandiri dan terarah (NANDA, 2011).
  3.   Defisit perawatan diri: mandi adalah hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan mandi/aktivitas perawatan diri untuk diri sendiri (NANDA, 2011).
  4.   Risiko infeksi adalah mengalami peningkatan risiko terserang organisme patogenik (NANDA, 2011).
  5.   Defisiensi pengetahuan adalah ketiadaan atau defisiensi informasi kognitif yang berkaitan dengan topik tertentu (NANDA, 2011).

 

  1. E.   Perencanaan

       Perencanaan keperawatan pada diagnosa keperawatan nyeri, hambatan mobilitas fisik, defisit perawatan diri, resiko infeksi dan defisit pengetahuan menurut Wilkinson, (2007), yaitu:

  1. Nyeri  akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, dan cedera pada jaringan lunak.

Tujuan: Tingkat Nyeri: Efek merusak, dibuktikan dengan indikator berikut (sebutkan nilainya 1-5: ekstrem, berat, sedang, ringan atau tidak ada). Ekspresi lisan atau pada wajah, posisi tubuh melindungi, kegelisahan atau ketegagan otot, perubahan dalam

 

mw lebih lengkap di link ini:

http://www.ziddu.com/download/20979559/babii.doc.html

 

 

Link | Posted on by | Leave a comment

askep fraktur tibia sinistra

BAB II

LANDASAN TEORITIS

Pada bab ini penulis akan menguraikan landasan teoritis yang terdiri dari anatomi fisiologi sistem muskuloskeletal khususnya pada klien dengan Fraktur Femur 1/3 Dorsal Sinistra.

 

  1. A.     Anatomi dan Fisiologi Sistem Muskuloskeletal
    1. 1.         Anatomi

Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan mengurus pergerakan. Komponen utama sistem muskuloskeletal adalah jaringan ikat yang terdiri dari atas tulang, sendi, otot rangka, tendon, ligamen, bursa, dan jaringan khusus yang menghubungkan struktur-struktur ini.  

Komponen–komponen utama dari jaringan tulang adalah mineral– mineral dan jaringan organik (kolagen dan proteoglikan. Kalsium dan fosfat membentuk suatu kristal garam (hidroksiapatit), yang tertimbun pada matriks kolagen dan proteoglikan. Matriks organik tulang disebut juga sebagai suatu osteoid. Sekitar 70 % dari osteoid adalah kolagen tipe I yang kaku dan memberikan ketegaran tinggi pada tulang (Price dan Wilson, 2006)

 

6

Tulang manusia saling berhubungan satu dengan yang lain dalam berbagai bentuk untuk memperoleh fungsi sistem muskuloskeletal yang optimal. Aktivitas gerak tubuh manusia bergantung pada efektifnya interaksi antara sendi yang normal dengan unit-unit neuromuskular yang menggerakannya. Elemen tersebut juga berinteraksi untuk mendistribusikan stres mekanik ke jaringan sekitar sendi. Struktur tulang memberikan perlindungan terhadap organ vital, termasuk otak, jantung dan paru-paru. (Lukman dkk, 2009)

Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan menjadi tempat melekatnya otot-otot yang menggerakan kerangka tubuh dan membentuk jaringan yang terstruktur dengan baik. (Muttaqin, 2008)

 

Gambar 2.1. Struktur Tulang(Muttaqin. 2008)

 

 

  1. 2.         Fungsi Tulang

Tulang adalah jaringan yang terstruktur dengan baik dan mempunyai lima fungsi utama (Muttaqin. 2008) yaitu:

 

  1. Membentuk rangka badan
  2. Sebagai pengumpil dan tempat melekat otot
  3. Sebagai bagian dari tubuh untuk melindungi dan mempertahankan alat-alat dalam (seperti otak, sumsum tulang belakang, jantung dan paru-paru)
  4. Sebagai tempat mengatur dan deposit kalsium, fosfat, magnesium, dan garam
  5. Ruang di tengah tulang tertentu sebagai organ yang mempunyai fungsi tambahan lain, yaitu sebagai jaringan hemopoietik untuk memproduksi sel darah merah, sel darah putih dan trombosit.

 

  1. 3.         Macam-macam Tulang

Secara garis besar tulang dibagi atas enam yaitu: tulang panjang, tulang pendek, tulang pipih, tulang tak beraturan, tulang sesamoid, dan tulang sutura. (Rasjad, 2003)

  1. Tulang panjang (long bone), misalnya femur, tibia, fibula, ulna dan humerus. Dimana daerah batas disebut diafisis dan daerah yang berdekatan dengan garis epifisis disebut metafisis. Daerah ini sangat sering ditemukan adanya kelainan atau penyakit karena daerah ini merupakan daerah metabolik yang aktif dan banyak mengandung pembuluh darah. (Muttaqin. 2008)

1)        Tulang Femur

Tulang femur merupakan tulang pipa terpanjang didalam tulang kerangka pada bagian pangkal yang berhubungan dengan asetabulum membentuk kepala sendi yang disebut kaput femoris. (Syaifuddin. 2006)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.2. Penampang Tulang Femur

(http://www.google//gambartulangfemur.html , diperoleh tanggal 25 Juni 2012)

 

a)         Ujung atas

Ujung atas terbagi atas tiga bagian yaitu :

(1)     Kaput

(2)     Collum

(3)     Tronchanter major sebelah lateral dan trochanter minor sebelah medial merupakan tempat melekatnya otot.

b)        Korpus

Korpus adalah tulang panjang, agak mendatar kearah medial. Sebagian besar permukaannya halus dan tempat melekatnya otot-otot.

c)         Ujung bawah

Ujung bawah terdiri dari kondile medial dan lateral yang besar dan suatu area tulang diantaranya.

 

2)        Tibia

Tibia adalah tulang kering merupakan kerangka yang utama dari tungkai bawah dan terletak dimedial dari fibula atau betis dan menahan berat tubuh. Tibia terdiri dari bagian yaitu :

a)         Ujung atas

Ujung atas tibia melebar kearah tranversal dan mempunyai permukaan artikular pada masing-masing kondile, medialis dan lateralis terdapat area luas non artikular antara permukaan tempat melekatnya ligamen.

 

 

 

b)        Korpus

Berbentuk potongan segitiga dan merupakan perbatasan anterior membentuk garis menonjol yang dapat diraba. Menyempit pada ujung tengah kemudian melebar.

 

c)         Ujung bawah

Ujung bawah tibia memperlihatkan maleolus medial berujung terutama pada aspek dalam pergelangan kaki, permukaan artikular untuk ujung bawah fibula dan permukaan artikular bawah dan medial untuk kalus.

 

3)        Fibula

Fibula atau tulang betis adalah tulang sebelah lateral dari tibia dan terutama berguna sebagai tempat lekat untuk otot dan hanya sedikit berguna untuk menopang berat tubuh. Tulang itu adalah tulang pipa dengan sebuah batang dan dua ujung. Fibula sangat ramping dibanding tibia. Fibula terdiri dari dua bagian yaitu :

a)         Ujung atas

Yang berartikulasi dengan kondile lateral dari tibia korpus.

 

 

 

b)        Ujung bawah

Ujung bawah yang memperlihatkan meleolus lateral pergelangan kaki, permukaan artikular untuk ujung bawah tibia dan permukaan artikular untuk talus.

 

  1. Tulang pendek (short bone), misalnya tulang-tulang karpal.
  2. Tulang pipih (flat bone), misalnya tulang parietal, iga, skapula dan pelvis.
  3. Tulang tak beraturan (irregular bone), misalnya tulang vetebra.
  4. Tulang sesamoid, misalnya tulang patela.
  5. Tulang sutura (sutural bone), ada diatap tengkorak.

 

  1. 4.         Fisiologi sel tulang

Tulang tersusun atas sel matriks, protein, dan deposit mineral. Sel-selnya terdiri dari 3 jenis dasar (Muttaqin. 2008), yaitu :

  1. Osteoblast

Membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe 1 dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteoid melalui suatu proses yang disebut osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblas menyekresikan sejumlah besar fosfatase alkali yang memegang peranan penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat kedalam matriks tulang.

 

  1. Osteosit

Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat.

 

  1. Osteoklas

Osteoklas adalah sel berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang dapat diabsorpsi.

 

  1. B.     Konsep Dasar Fraktur
  1. Pengertian

Fraktur adalah beberapa kerusakan baik komplit ataupun tidak komplit dalam suatu kontuinitas tulang. (Maher dan Selmond, 2002).

Fraktur adalah terputusnya kontuinitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (Smletzer dan Bare, 2002)

Fraktur femur adalah fraktur pada daerah femur yang biasa disebabkan oleh trauma (sering akibat kecelakaan kendraan bermotor). Pada  penderita fraktur femur dianjurkan imobilisasi karena dengan pergerakan daerah yang fraktur dapat menyebabkan perpindahan dari ujung tulang.( Ignatavicius dan Workman, 2006)

Fraktur femur atau patah tulang paha adalah rusaknya kontuinitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, dan kondisi tertentu seperti degenerasi tulang atau osteoporosis.

 ( Muttaqin. 2008)

Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat penyusun simpulkan, Fraktur adalah patah tulang yang diakibatkan tekanan atau benturan yang keras pada tulang.

 

  1. Etiologi

Umumnya fraktur disebabkan oleh trauma atau aktivitas fisik dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang. Fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki dari pada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau luka yang disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. (Muttaqin. 2008)

  1. Trauma langsung

 

mau yg lengkap di link ini”

http://www.ziddu.com/download/20979486/BABIISUKMA.docx.html

Link | Posted on by | Leave a comment

askep pneumothorax

askep pneumothorax

 

BAB II

LANDASAN TEORITIS

 

Pada bab ini penulis akan menyajikan anatomi fisiologi sistem pernapasan dan konsep dasar penyakit pneumotoraks serta konsep dasar asuhan keperawatan pneumotoraks secara teoritis.

  1. A.    Anatomi Dan Fisiologi Sistem Pernapasan

Pernapasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen serta mengehembuskan udara yang banyak mengandung karbon dioksida keluar dari tubuh. Penghisapan udara ini disebut inspirasi dan menghembuskan disebut ekspirasi. Guna pernapasan yaitu mengambil oksigen yang kemudian dibawa oleh darah keseluruh tubuh (sel-selnya) untuk mengadakan pembakaran, dan mengeluarkan karbon dioksida yang terjadi sebagai sisa dari pembakaran, kemudian dibawa oleh darah keparu-paru untuk dibuang (karena tidak berguna lagi bagi tubuh) serta menghangatkan dan melembabkan udara.

Berikut ini akan dibahas anatomi dan fisiologi Menurut Syaifuddin (2006, hlm 192) sistem pernapasan yaitu :

  1. 1.      Anatomi
    1. Hidung

Hidung atau nasal merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai dua lubang (kavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). Didalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu dan kotoran yang masuk kedalam lubang hidung.

Fungsi hidung yaitu bekrja sebagai saluran udara pernapasan, sebagai penyaring udara pernapasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung, dapat menghangatkan udara pernapasan mukosa dan sebagai pelembab udara.

  1. Faring

Faring merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan, terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Rongga faring dibagi dalam 3 bagian:

1)      Nasofaring merupakan bagian utama dari faring. Disamping sebagai saluran udara, nasofaring berhubungan dengan rongga hidung dengan perantara lubang yang bernama koana.

2)      Orofaring merupakan bagian tengah dari faring yang terletak dibelakang rongga mulut dan berperan sebagai saluran udara serta saluran makanan.

3)      Laringofaring merupakan bagian bawah sekali dari faring, laringofaring berperan sebagai saluran pernapasan dan saluran makanan.

  1. Laring

Laring merupakan saluran udara yang bertindak sebagai pembentukan suara, terletak didepan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk kedalam trakea dibawahnya. Pangkal tenggorokan itu dapat ditutup oleh sebuah empang tenggorokan yang disebut epiglotis yang terdiri dari tualng-tulang rawan yang berfungsi pada waktu kita menelan makanan menutupi laring.

  1. Trakea

Trakea atau batang tenggorokan merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 sampai 20 cincin yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda (hurf C). sebelah dalam diliputi oleh selaput lender yang berbulu getar yang disebut sel bersilia, hanya bergerak kearah luar. Panjang trakea 9-11cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi otot polos. Sel-sel bersilia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan. Yang memisahkan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan disebut karina.

  1. Bronkus

Bronkus atau cabang tenggorokan merupakan lanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat ketinggian vertebra torakalis IV dan V, mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis set yang sama. Bronkus itu berjalan ke bawah dan kesamping kearah tampuk paru-paru. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar daripada bronkus kiri, terdiri dari 6-8 cincin, mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari yang kanan, terdiri dari 9-12 cincin mempunyai 2 cabang. Bronkus bercabang-cabang, cabang yang lebih kecil disebut bronkiolus (bronkioli). Pada bronkioli tak terdapat cincin lagi, dan pada ujung bronkioli terdapat gelembung paru/gelembung hawa atau alveoli.

  1. Paru-paru

Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung (gelembung hawa, alveoli). Gelembung alveoli ini terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. Jika dibentangkan luas permukaannya lebih kurang 90 m2. Pada lapisan ini terjadi pertukaran udara, 02 masuk ke dalarn darah dan CO2 dikeluar­kan dari darah. Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih 700.000.000 buah (paru-paru kiri dan kanan).

Paru-paru dibagi dua: paru-paru kanan, terdiri dari 3 lobus (belah paru), lobus pulmo dekstra superior, lobus media, dan lobus inferior. Tiap lobus tersusun oleh lobulus. paru-paru kiri, terdiri dari pulmo sinistra lobus superior dan lobus inferior. Tiap-tiap lobus terdiri dari belahan yang lebih kecil bernama segmen. Paru-paru kiri mempunyai 10 segmen yaitu 5 buah segmen pada lobus superior, dan 5 buah segmen Pada inferior.

Paru-paru kanan mempunyai 10 segmen yaitu 5 buah segmen pada lobus superior, 2 buah segmen pada lobus medialis, dan 3 buah segmen pada lobus inferior. Tiap-tiap segmen ini masih terbagi lagi menjadi belahan-belahan yang bernama lobulus. Di antara lobulus satu dengan yang lainn.ya dibatasi ole11 jaringan ikat yang berisi pembuluh darah getah bening dan saraf, dalam tiap-tiap lobulus terdapat sebuah bronkiolus. Didalam lobulus, bronkiolus ini bercabang-cabang banyak sekali, cabang-cabang ini disebut duktus alveolus. Tiap-tiap duktus alveolus berakhir pada alveolus yang diameternya antara 0,2-0,3 mm.

Letak paru-paru di rongga dada datarannya menghadap ke tengah rongga dada/kavum mediastinum. Pada bagian tengah terdapat tampuk paru-paru atau hilus. Pada mediastinum depan terletak jantung. Paru-paru dibungkus oleh selaput yang bernama pleura. Pleura dibagi menjadi dua: I) Pleura viseral (selaput dada .pembungkus) yaitu selaput paru yang langsung membungkus paru-paru; 2) Pleura parietal yaitu selaput yang melapisi rongga dada sebelah luar. Antara kedua pleura ini terdapat rongga (kavum) yang disebut kavum pleura. Pada keadaan normal, kavum pleura ini oakum (hampa udara) sehingga paru-paru dapat berkembang kempis dan juga terdapat sedikit cairan (eksudat) yang ber­guna untuk meminyaki permukaannya (pleura), menghindarkan gesekan antara paru-paru dan dinding dada sewaktu ada gerakan bernapas.

  1. 2.      Fisiologi pernapasan

Oksigen dalam tubuh dapat diatur menurut keperluan. Manusia sangat membutuhkan oksigen dalam hidupnya, kalau tidak mendapatkan oksigen selama 4 menit akan mengakibatkan kerusakan pada otak yang tak dapat diperbaiki dan bisa menimbulkan kematian. Kalau penyediaan oksigen berkurang akan menimbulkan kacau pikiran dan anoksia serebralis, misalnya orang bekerja pada ruangan yang sempit, tertutup, ruang kapal, ketel uap, dan lain-lain. Bila oksigen tidak mencukupi maka warna darah merahnya hilang berganti kebiru-biruan misalnya yang terjadi pada bibir, telinga, lengan, dan kaki (disebut sianosis).

  1. Pernapasan paru

Pernapasan paru merupakan pertukaran oksigen dan karbon dioksida yang terjadi pada paru-paru. Pernapasan melalui paru-paru atau pernapasan eksterna, oksigen diambil melalui mulut dan hidung pada waktu bernapas yang oksigen masuk melalui trakea sampai ke alveoli berhubungan dengan darah dalam kapiler pulmonar. Alveoli memisahkan oksigen dari darah, oksigen menembus rnembran, diambil oleh sel darah merah dibawa ke jantung dan dari jantung dipompakan ke seluruh tubuh. Didalam paru karbon dioksida merupakan hasil buangan yang menembus membrane alveoli.

Dari kapiler darah dikeluarkan melalui pipa bronkus berakhir sampai mulut dan hidung. Empat proses yang berhubungan dengarfpernapasan pulmoner:

1)      Ventilasi pulmoner, gerakan pernapasan yang menukar udara dalam alveoli dengan udara luar.

2)      Arus darah melalui paru-paru; darah mengandung oksigen masuk ke seluruh tubuh, karbon dioksida dari seluruh tubuh masuk ke paru-paru.

3)      Distribusi arus udara dan arus darah sedemikian rupa dengan jumlah yang tepat yang bisa dicapai untuk semua bagian.

4)      Difusi gas yang menembus membran alveoli dan kapiler karbon dioksida lebih mudah berdifusi daripada oksigen.

Proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida terjadi ketika konsentrasi dalam darah memengaruhi dan merangsang pusat pernapasan terdapat dalam otak untuk memperbesar kecepatan dalam pernapasan sehingga terjadi pengambilan oksigen dan pengeluaran CO2 lebih banyak. Darah merah (hemoglobin) yangbanyak mengandung oksigen dari seluruh tubuh masuk ke dalarn jaringan yang akhimya mencapai kapiler. Darah mengeluarkan oksigen ke dalam jaringan, mengambil karbon dioksida untuk dibawa ke paru-paru dan di paru-paru terjadi pernapasan eksterna. Besarnya daya muat udara dalam paru-paru 4500-5000 ml (4,5-5 liter).

Udara yang diproses dalam paru-paru (inspirasi dan ekspirasi) hanya 10%, ±500 ml disebut juga, udara pasang surut (tidal air) yaitu yang dihirup dan yang dihembuskan pada pernapasan biasa. Kecepatan pernapasan pada wan ita lebih tinggi daripada pria. Pernapasan secara normal, ekspirasi akan menyusul inspirasi dan kemudian istirahat. Pada bayi ada kalanya terbalik, inspirasi isirahat ekspirasi, disebut juga pernapasan terbalik.

  1. Pengaturan pernapasan

Pernapasan spontan ditimbulkan oleh rangsangan ritmis neuron motoris yang mempersarafi otot pernapasan otak. Rangsangan ini secara keseluruhan bergantung pada impuls-impuls saraf. Pernapasan berhenti bila medula spinalis dipotong melintang di atas nervus frenikulus. Di sini terdapat dua mekanisme saraf yang terpisah .mengatur pernapasan.

Rangsangan ritmik pada medula oblongata nnenimbulkan pernapasan otomatis. Daerah medula oblongata berhubungan dengan pernapasan secara klasik. Tempat pusat pernapasan yang dekat dengan nukleus traktus solitarius adalah sumber irama yang mengendalikan neuron motoris frenikus kontralateral. Rangsangan ritmis neuron pusat pernapasan adalah spontan tetapi diubah oleh pusat pons dan aferens, nervus dari reseptor dalarn paru-paru. Bila batang otak ditranseksi pada bagian inferior pons dan nervus vagus dibiarkan utuh, perna­pasan reguler terus berlangsung. Peranan fisiologis yang tepat daerah pernapasan dan pans tidak pasti, tetapi yang jelas membuat rangsang ritmis dari neuron medula oblongata.

Pengaturan irama, mekanisme yang pasti bertanggung jawab untuk rangsangan spontan dari neuron-neuron medula oblongata dan yang tidak pasti bertanggung jawab terhadap neuron pernapasan golongan ventral yang dikendalikan oleh neuron pernapasan golongan dorsal, jadi irama pernapasan tidak berasal dari golongan ventral. Dalamnya pernapasan meningkat bila paru-paru diregangkan lebihbesar sebelum aktivitas penghambatan dari vagus cukup untuk melawan rangsangan neuron inspirasi yang lebih hebat. Kecepatan pernapasan meningkat sebab setelah rangsangan pada vagus dan aferen dan eferen pneumotosik dengan cepat dilawan.

 

 

 

 

  1. B.     Konsep Dasar Pnemotoraks
  2. 1.      Pengertian

Pneumotorax adalah keadaan terdapatnya udara atau gas lain dalam kantong pleura (Robbins, 2007, hlm. 567).

Pneumotoraks ialah rongga pleura yang terisi udara (Alsagaff, 2002, hlm. 162).

Pneumotoraks adalah keadaan terdapatnya udara atau gas dalam rongga pleura (Kurniasih, 2009, hlm. 2339).

Maka dari itu penulis dapat menyimpulkan pneumotoraks adalah udara yang keluar dari paru-paru masuk ke rongga pleura dan udara tersebut tidak dapat keluar sehingga menyebabkan tekanan pleura yang meningkat terus mengakibatkan terjadinya kolaps.

 

  1. 2.      Etiologi

Etiologi dari pneumotoraks menurut Darmawan & Rahayuningsih (2010 hlm 52) adalah:

a.    Valve mechanism distal dari bronkiol yang mengalami peradangan atau adanya jaringan parut. Robekan dapat pula terjadi pada bleb yang terletak subpleura.

b.    Ada kebocoran dibagian paru yang berisi udara melalui robekan atau pleura yang pecah

c.    Tekanan intrabronkial yang meningkat

d.    Peluru menembus dada dan paru

linknya:

http://www.ziddu.com/download/20979454/BABIIpay.doc.html

Link | Posted on by | Leave a comment

askep stroke non hemoragic

askep stroke non hemoragic

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini, penyusun akan memaparkan anatomi dan fisiologi sistem persarafan, konsep dasar penyakit stroke non hemoragik, dan konsep dasar asuhan keperawatan pada klien dengan stroke non hemoragik.

 

  1. A.    Anatomi Fisiologi Sistem Persarafan

Sistem persarafan terdiri dari otak, medulla spinalis, dan saraf perifer. Struktur-struktur ini bertanggung jawab untuk kontrol dan koordinasi aktivitas sel tubuh melalui impuls-impuls elektrik. Perjalanan impuls-impuls tersebut berlangsung melalui serat-serat saraf dan jaras-jaras, secara langsung dan terus-menerus. Responsnya seketika sebagai basil dari perubahan potensial elektrik, yang mentransmisikan sinyal-sinyal (Smeltzer & Bare, 2002, hlm. 2074).

 

  1. 1.    Otak

Otak dibagi menjadi tiga bagian besar : serebrum, batang otak, dan serebelum. Semua berada dalam satu bagian struktur tulang yang disebut tengkorak, yang juga melindungi otak dari cedera. Empat tulang yang berhubungan membentuk tulang tengkorak : tulang frontal, parietal, temporal dan oksipital Pada dasar tengkorak terdiri dari tiga bagian fossa-fossa. Bagian fossa anterior berisi lobus frontal serebral bagian hemisfer; bagian tengah fossa berisi lobus parietal, temporal dan oksipital dan bagian fossa posterior berisi batang otak dan medula (Smeltzer & Bare, 2002, hlm. 2074). Pendapat lain mengemukakan Syaifuddin, (2006, hlm. 277) otak merupakan alat tubuh yang sangat penting karena merupakan  pusat komputer dari semua alat tubuh, bagian dari saraf sentral yang terletak di dalam rongga tengkorak (kranium) dibungkus oleh selaput otak yang kuat.

 

Gambar 2.1 : Ringkasan fisiologis dari bagian-bagian saraf pusat

Sumber : Simon dan Schuster, 1998 (dalam Muttaqin, 2008, hlm.13).

 

 

  1. Cerebrum

“Menurut Smeltzer. (2002, hlm. 2074) Serebrum terdiri dari dua hemisfer dan empat lobus. Substansia grisea terdapat pada bagian luar dinding serebrum dan substansia alba menutupi dinding serebrum bagian dalam. Pada prinsipnya komposisi substansi grisea yang terbentuk dari badan-badan sel saraf memenuhi korteks serebri, nukleus dan basal ganglia. Substansi alba terdiri dari sel-sel saraf yang menghubungkan bagian-bagian otak dengan bagian yang lain. Sebagian besar hemisfer serebri (telensefalon) berisi jaringan sistem saraf pusat (SSP). Area inilah yang mengontrol fungsi motorik tertinggi, yaitu terhadap fungsi individu dan intelegensi. Keempat lobus serebrum adalah sebagai berikut” :

1)      Frontal

Lobus terbesar ; terletak pada fossa anterior. Area ini mengontrol perilaku individu, membuat keputusan, kepribadian dan menahan diri.

2)      Parietal

Lobus sensori. Area ini menginterpretasikan sensasi. Sensasi rasa yang tidak berpengaruh adalah bau. Lobus parietal mengatur individu mampu mengetahui posisi dan letak bagian tubuhnya. Kerusakan pada daerah ini menyebabkan sindrom hemineglem.

3)      Temporal

Berfungsi mengintegrasikan sensasi kecap, bau, pendengaran, dan ingatan jangka pendek sangat berhubungan dengan daerah ini.

4)      Oksipital

Terletak pada lobus anterior hemisfer serebri. Bagian ini bertanggung jawab menginterpretasikan penglihatan.

 

Gambar 2.2 : Cerebrum dilihat pada sisi posterior dan sisi lateral

Sumber : Simon dan Schuster, 1998 (dalam Muttaqin, 2008, hlm. 22)

  1. Batang otak

Batang otak terletak pada fossa anterior. Bagian-bagian batang otak ini terdiri dari otak tengah, pons dan medula oblongata. Otak tengah (midbrain atau mesensefalon menghubungkan pons dan serebelum dengan hemisfer serebrum. Bagian ini berisi jalur sensorik dan motorik dan sebagai pusat refleks pendengaran dan penglihatan. Pons terletak di depan serebelum antara otak tengah dan medula dan merupakan jembatan antara dua bagian serebelum, dan juga antara medula dan serebelum. Pons berisi jaras sensorik dan motorik. (Smeltzer & Bare, 2002, hlm. 2078).

Medula oblongata meneruskan serabut-serabut motorik dari otak ke medulla spinalis dan serabut-serabut sensorik dari medulla spinalis ke otak. Dan serabut-serabut tersebut menyilang pada daerah ini. Pons berisi pusat-pusat terpenting dalam mengontrol jantung, pernapasan dan tekanan darah dan sebagai asal-usul otak kelima sampai kedelapan. (Smeltzer & Bare, 2002, hlm. 2078).

  1. Cerebelum

“Menurut Smeltzer & Bare, (2002, hlm. 2078) Serebelum terletak pada fossa posterior dan terpisah dari hemisfer serebral, lipatan dura mater, tentorium serebelum. Serebelum mempunyai dua aksi yaitu merangsang dan menghambat dan tanggung jawab yang luas terhadap koordinasi dan gerakan halus. Ditambah mengontrol gerakan yang benar, keseimbangan, posisi dan mengintegrasikan input sensorik”.

 

Gambar 2.3 : Penampang melintang otak

(Sumber : Tortora & Derrickson, 2009)

 

Gambar 2.4 : Cerebellum, (kiri) permukaan superior, (kanan) potongan melintang.

Sumber : Simon dan Schuster, 1998 (dalam Muttaqin, 2008, hlm. 27)

 

 

1)   Sirkulasi Serebral

Sirkulasi serebral menerima kira-kira 20% dari jantung atau 750 ml per menit. Sirkulasi ini sangat dibutuhkan, karena otak tidak menyimpan makanan, sementara mempunyai kebutuhan metabolisme yang tinggi. Aliran darah otak ini unik, karena melawan arah gravitasi. Di mana darah arteri mengalir mengisi dari bawah dan vena mengalir dari atas. Kurangnya penambahan aliran darah kolateral dapat menyebabkan jaringan rusak ireversibel; ini berbeda dengan organ tubuh lainnya yang cepat mentoleransi bila aliran darah menurun karena aliran kolateralnya adekuat.

2)      Arteri-Arteri

Darah arteri yang disuplai ke otak berasal dari dua arteri karotid internal dan dua arteri vertebral dan meluas ke sistem percabangan. Karotid internal dibentuk dari percabangan dua karotid dan memberikan sirkulasi darah otak bagian anterior. Arteri-arteri vertebral adalah cabang dari arteri subklavia, mengalir ke belakang dan naik pada satu sisi tulang belakang bagian vertikal dan masuk tengkorak melalui foramen magnum. Kemudian saling berhubungan menjadi arteri basilaris pada batang otak. Arteri vertebrobasilaris paling banyak menyuplai darah ke otak bagian posterior. Arteri basilaris membagi menjadi dua cabang pada arteri serebralis bagian posterior.

 

 

3)      Sirkulus Willisi

Pada dasar otak di sekitar kelenjar hipofisis, sebuah lingkaran arteri terbentuk diantara rangkaian arteri karotid internal dan vertebral. Lingkaran ini disebut sirkulus Willisi yang dibentuk dari cabang-cabang arteri karotid internal, anterior dan arteri serebral bagian tengah, dan arteri penghubung anterior dan posterior. Aliran darah dari sirkulus Willisi secara langsung mempengaruhi sirkulasi anterior dan posterior serebral, arteri-arteri pada sirkulus Willisi memberi rute  alternatif pada aliran darah jika salah satu peran arteri mayor tersumbat.

Anastomosis arterial sepanjang sirkulus Willisi merupakan daerah yang sering mengalami aneurisma, mungkin bersifat kongenital. Aneurisma dapat terjadi bila tekanan darah meningkat, yang menyebabkan dinding arteri menjadi menggelembung keluar seperti balon. Aneurisma yang berdekatan dengan struktur serebral dapat menyebabkan penekanan struktur serebral, seperti penekanan pada khiasma optikum yang menyebabkan gangguan penglihatan. Jika arteri tersumbat karena spasme vaskuler, emboli, atau karena trombus, dapat menyebabkan sumbatan aliran darah ke distal neuron-neuron dan hal ini mengakibatkan sel-sel neuron cepat nekrosis. Keadaan ini mengakibatkan stroke (cedera serebrovaskular atau infark). Pengaruh sumbatan pembuluh darah tergantung pada pembuluh darah dan pada daerah otak yang terserang.

 

4)      Vena

Aliran vena untuk otak tidak menyertai sirkulasi arteri sebagaimana pada struktur organ lain. Vena-vena pada otak menjangkau daerah otak dan bergabung menjadi vena-vena yang besar. Penyilangan pada subarakhnoid dan pengosongan sinus dural yang luas, mempengaruhi vaskular yang terbentang dalam dura mater yang kuat. Jaringan kerja pada sinus-sinus membawa vena ke luar dari otak dan pengosongan vena jugularis interna menuju sistem sirkulasi pusat. Vena-vena serebri bersifat unik, karena vena-vena ini tidak seperti vena-vena lain. Vena-vena serebri tidak mempunyai katup untuk mencegah aliran balik darah.

 

  1. B.     Konsep Dasar Penyakit Stroke Non Hemoragik
    1. 1.    Pengertian

Menurut WHO (dalam Muttaqin, 2008, hlm. 128) stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskular. Sedangkan menurut Smeltzer & Bare, (2002, hlm. 2131) stroke atau cedera cerebrovaskular (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak.

Stroke adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan perubahan neurologis yang disebabkan oleh gangguan dalam suplai darah ke bagian otak. Dua jenis utama dari stroke iscbemic dan hemorrbagic. Stroke iskemik disebabkan oleh penyumbatan trombotik atau embolik dari aliran darah ke otak. Perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang subarachnoid menyebabkan stroke hemoragik. Stroke iskemik mencapai sekitar 83% dari semua stroke. Para sebesar 17% dari stroke hemoragik (Black & Hawks, 2009, hlm. 1843).

“Menurut Price, (2006, hlm. 1110) stroke non hemoragik (SNH) merupakan gangguan sirkulasi cerebri yang dapat timbul sekunder dari proses patologis pada pembuluh misalnya trombus, embolus atau penyakit vaskuler dasar seperti artero sklerosis dan arteritis yang mengganggu aliran darah cerebral sehingga suplai nutrisi dan oksigen ke otak menurun yang menyebabkan terjadinya infark”. “Sedangkan menurut Muttaqin, (2008, hlm. 130) Stroke Non Haemoragik adalah dapat berupa iskemia atau emboli dan trombosis serebral,biasanya terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau dipagi hari”.

Dari beberapa pengertian stroke diatas, Penyusun menyimpulkan stroke non hemoragik adalah adalah gangguan cerebrovaskular yang disebabakan oleh sumbatnya pembuluh darah akibat penyakit tertentu seperti aterosklerosis, arteritis , trombus dan embolus.

 

Gambar 2.5 : Iskemik pada jaringan otak

Sumber : Yayasan Stroke Indonesia, (2012)

 

  1. 2.        Kalsifikasi Stroke

Klasifikasi Stroke Non Haemoragik menurut Tarwoto dkk, (2007, hlm. 89) adalah :

linknya:

http://www.ziddu.com/download/20979423/BAB2.docx.html

Link | Posted on by | Leave a comment

askep jiwa isolasi sosial

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Tinjauan pustaka merupakan dasar ilmu pengetahuan yang harus dimiliki oleh setiap individu sebagai pemberian pelayanan keperawatan agar tercapai hasil yang seoptimal mungkin. Bab  ini penulis menguraikan tentang konsep dasar Isolasi sosial dan penatalaksanaan pada klien dengan Isolasi sosial secara teoritis.

 

  1. A.  Konsep Dasar Isolasi Sosial

Skizofrenia adalah suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, dan perilaku yang aneh dan terganggu. Skizofrenia tidak ada didefinisikan sebagai penyakit tersendiri, melainkan diduga sebagai suatu sindrom atau proses penyakit yang mencakup banyak jenis dengan berbagai gejala seperti halnya jenis kanker. (Videbeck, 2008, hlm. 348)

 

 

9

 

7

 

Gejala atau perilaku yang berhubungan dengan skizofrenia dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu kategori negatif dan positif. Gejala positif yang dialami adalah waham, halusinasi, gangguan pikiran, bicara kacau, dan perilaku aneh. Sedangkan gejala negatif yang dialami adalah afek datar, alogia, avolisi/apati, anhedonia/asosial, dan defisit perhatian. (Stuart, 2007, hlm. 241)

 

Salah satu jenis skizofrenia adalah skizofrenia hebefrenik. Skizofrenia hebefrenik  disebut juga disorganized type atau “kacau balau” yang ditandai dengan gejala-gejala seperti inkoherensi, alam perasaan, perilaku atau tertawa seperti anak-anak, waham tidak jelas, halusinasi, serta perilaku aneh. (Hawari, 2006, hlm. 64-65)

 

Menarik diri merupakan salah satu gejala negatif dari skizofrenia dan juga merupakan salah satu tanda dan gejala dari isolasi sosial. Dari uraian diatas penulis akan menjelaskan tentang konsep  isolasi sosial.

 

  1. 1.    Pengertian Isolasi Sosial

Suatu sikap dimana individu menghindari diri dari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran, prestasi, atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian, dan tidak sanggup membagi pengamatan dengan orang lain. (Balitbang, dalam Fitria, 2010, hlm. 29)

 

Isolasi sosial adalah keadaan ketika seorang individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. (Keliat dan Akemat, 2009, hlm. 93)

 

Selain itu isolasi sosial merupakan upaya menghindari komunikasi dengan orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk berbagi rasa, pikiran, dan kegagalan. Klien mengalami kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup berbagi pengalaman. (Yosep, 2009, hlm. 229)

 

Beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa isolasi sosial merupakan suatu keadaan dimana seseorang berpartisipasi dalam pertukaran sosial dengan kuantitas dan kualitas yang tidak efektif. Klien yang mengalami kerusakan interaksi sosial mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain salah satunya mengarah pada perilaku menarik diri.

 

 

 

 

 

 

  1. 2.      Proses Terjadinya Isolasi Sosial

Proses terjadinya masalah dapat gambarkan dalam bentuk skema 2.1 dibawah ini:

 

Skema 2.1 Model adaptasi stres. (Stuart dan Laraia, 2005, hlm. 434)

 

  1. Faktor Predisposisi

Menurut Fitria (2009, hlm. 33-35) ada empat faktor predisposisi yang menyebabkan Isolasi Sosial, diantaranya:

1)   Faktor Tumbuh Kembang

Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas perkembangan yang harus dipenuhi agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial. Bila tugas perkembangan tidak terpenuhi maka akan menghambat fase perkembangan sosial yang nantinya akan dapat menimbulkan masalah sosial.

 

Dibawah ini akan dijelaskan tahap perkembangan serta tugas perkembangan, lihat tabel 2.1 dibawah ini:

Tahap Perkembangan

Tugas

Masa Bayi

Menetapkan rasa percaya.

Masa Bermain

Mengembangkan otonomi dan awal perilaku mandiri

Masa Prasekolah

Belajar menunjukan inisiatif, rasa tanggung jawab, dan hati nurani

Masa Sekolah

Belajar berkompetisi, bekerja sama, dan berkompromi

Masa Praremaja

Menjalin hubungan intim dengan teman sesama jenis kelamin

Masa Dewasa Muda

Menjadi saling bergantung antara orang tua dan teman, mencari pasangan, menikah, dan mempunyai anak

Masa Tengah Baya

Belajar menerima hasilkehidupan yang sudah dilalui

Masa Dewasa Tua

Berduka karena kehilangan dan mengembangkan perasaan keterkaitan dengan budaya

 

Tabel 2.1 Tugas perkembangan berhubungan dengan pertumbuhan interpersonal (Erik Erikson dalam Stuart, 2007, hlm. 346)

 

2)   Faktor Sosial Budaya

Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan suatu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Hal ini disebabkan oleh norma-norma yang salah dianut oleh keluarga di mana setiap anggota keluarga yang tidak produktif seperti lanjut usia, penyakit kronis, dan penyandang cacat diasingkan dari lingkungan sosialnya.

 

3)   Faktor Biologis

Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Organ tubuh yang dapat mempengaruhi terjadinya gangguan hubungan sosial adalah otak, misalnya pada klien skizofrenia yang mengalami masalah dalam hubungan sosial memiliki struktur yang abnormal pada otak seperti atropi otak, serta perubahan ukuran dan bentuk sel sel dalam limbik dan daerah kortikal.

 

4)   Faktor Komunikasi dalam Keluarga

Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Dalam teori ini yang termasuk dalam masalah berkomunikasi sehingga menimbulkan ketidakjelasan yaitu suatu keadaan dimana seorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersama atau ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga.

 

  1. Faktor Presipitasi (pencetus)

Menurut Stuart (2007, hlm. 280) faktor presipitasi atau stresor pencetus pada umumnya mencakup peristiwa kehidupan yang menimbulkan stres seperti kehilangan, yang memenuhi kemampuan individu berhubungan dengan orang lain dan menyebabkan ansietas. Faktor pencetus dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu sebagai berikut:

1)   Stresor Sosiokultural. Stress dapat ditimbulkan oleh menurunnya stabilitas unit keluarga dan berpisah dari orang yang berarti.

2)   Stresor Psikologi. Tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau kegagalan orang lain untuk memenuhi kebutuhan. 

  1. Penilaian Terhadap Stressor

Rasa sedih karena suatu kehilangan atau beberapa kehilangan dapat sangat besar sehingga individu tidak tidak mau menghadapi kehilangan dimasa depan, bukan mengambil resiko mengalami lebih banyak kesedihan. Respon ini lebih mungkin terjadi jika individu mengalami kesulitan dalam tugas perkembangan yang berkaitan dengan hubungan. (Stuart, 2007, hlm. 280).

 

  1. Sumber Koping

Menurut Stuart (2007, hlm. 280) sumber koping yang berhubungan dengan respon sosial maladaptif adalah sebagai berikut :

1)        Keterlibatan dalam hubungan keluarga yang luas dan teman.

2)        Hubungan dengan hewan peliharaan yaitu dengan mencurahkan perhatian pada hewan peliharaan.

3)        Penggunaan kreativitas untuk mengekspresikan stres interpersonal (misalnya: kesenian, musik, atau tulisan)

 

Menurut Stuart & Laraia (2005, hlm. 432) terkadang ada beberapa orang yang ketika ada masalah mereka mendapat dukungan dari keluarga dan teman yang membantunya dalam mencari jalan keluar, tetapi ada juga sebagian orang yang memiliki masalah, tetapi menghadapinya dengan menyendiri dan tidak mau menceritakan kepada siapapun, termasuk keluarga dan temannya.

 

  1. Mekanisme Koping

Menurut Stuart (2007, hlm. 281) individu yang mengalami respon sosial maladaptif menggunakan berbagai mekanisme dalam upaya untuk mengatasi ansietas.

 

Mekanisme tersebut berkaitan dengan dua jenis masalah hubungan yang spesifik yaitu sebagai berikut:

1)        Koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian antisosial

a)        Proyeksi merupakan keinginan yang tidak dapat ditoleransi, mencurahkan emosi kepada orang lain karena kesalahan sendiri. (Rasmun, 2004, hlm. 35)

b)        Spliting atau memisah merupakan kegagalan individu dalam menginterpretasikan dirinya dalam menilai baik buruk. (Rasmun, 2004, hlm. 36)

2)        Koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian ambang

a)        Splitting

b)        Formasi reaksi

c)        Proyeksi

d)       Isolasi merupakan perilaku yang menunjukan pengasingan diri dari lingkungan dan orang lain. (Rasmun, 2004, hlm. 32)

e)        Idealisasi orang lain

f)         Merendahkan orang lain

g)        Identifikasi proyeksi

 

  1. Rentang Respon

Bagan rentang respon pada pasien dengan isolasi sosial dapat dilihat pada skema 2.2 dibawah ini:

 

 

Respon adaptif                                               Respon maladaptif

 

Menarik diri

Ketergantungan

Manipulasi

curiga

 

Merasa sendiri

Dependensi

curiga

 

Menyendiri

Otonomi

Bekerjasama

interdependen

 

 

                                      

 

 

         

Skema 2.2 Rentang respon isolasi sosial

(Townsend dalam Fitria, 2009, hlm.32)

 

 

 

 

Berdasarkan bagan diatas respon sosial pada pasien dengan isolasi sosial dibagi menjadi respon adaptif dan respon maladaptif :

1)   Respon Adaptif

Respon adaptif adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan secara umum yang berlaku. Menurut Fitria (2009, hlm. 32) yang termasuk respon adaptif adalah sebagai berikut:

a)    Menyendiri, merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah terjadi dilingkungan sosialnya.

b)   Otonomi, merupakan kemampuan individu untuk menentukan dab menyampaikan ide, pikiran, dan perasaan dalam hubungan sosial.

c)    Bekerja sama, merupakan kemampuan individu yang saling membutuhkan orang lain.

d)   Interdependen, saling ketergantungan antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.

 

2)   Respon Maladaptif

Respon yang diberikan individu menyimpang dari norma sosial. Yang termasuk kedalam rentang respon maladaptif adalah sebagai berikut:

a)    Menarik Diri

Seseorang yang mengalami kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.

 

b)   Ketergantungan

Seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri sehingga tergantung dengan orang lain.

c)    Manipulasi

Seseorang yang mengganggu orang lain sebagai objek individu sehingga tidak dapat menerima hubungan sosial secara mendalam.

d)   Curiga

Seseorang gagal dalam mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain.

 

  1. B.  Penatalaksanaan Isolasi sosial

Penatalaksanaan  asuhan keperawatn pada pasien isolasi sosial terdiri dari penatalaksanaan keperawatan dan penatalaksanaan medis:

  1. 1.    Penatalasanaan Keperawatan

Penatalaksanaan keperawatan pada pasien dengan isolasi sosial meliputi metode pendekatan proses keperawatan dan terapi modalitas.

  1. Metode Pendekatan Proses Keperawatan

Proses keperawatan adalah suatu metode pemberian asuhan keperawatan yang sistematis dan rasional. (Kozier dalam Nurjannah, 2004, hlm. 29)

 

Menurut Stuart dan Sundeen dalam Nurjannah (2004, hlm. 30). Enam fase atau langkah dari proses keperawatan tersebut meliputi pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, engidentifikasian outcame, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

1)   Pengkajian  Asuhan Keperawatan

Pengkajian merupakan tahap awal dari dasar utama dari proses keperawatan, tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien. Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. (Nurjannah, 2004, hlm. 30)

 

Pengelompokan data  pada pengkajian kesehatan jiwa dapat pula berupa faktor predisposisi, presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien. (Stuart dan Sundeen dalam Nurjannah, 2004, hlm. 30)

 

Menurut Keliat (2010, hlm.93) untuk melakukan pengkajian pada  pasien dengan isolasi sosial dapat menggunakan teknik wawancara dan observasi.

a)        Pengkajian yang ditemukan pada teknik wawancara adalah sebagai berikut:

(1)     Pasien mengatakan malas bergaul dengan orang lain.

(2)     Pasien mengatakan dirinya tidak ingin ditemani perawat dan meminta untuk sendirian.

(3)     Pasien mengatakan tidak mau berbicara dengan orang lain.

(4)     Pasien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain.

(5)     Pasien merasa tidak aman dengan orang lain.

(6)     Pasien mengatakan tidak bisa melangsungkan hidup.

(7)     Pasien mengatakan merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu.

 

 

linknya:

http://www.ziddu.com/download/20979365/BABII.docx.html

 

Link | Posted on by | Leave a comment

askep BPH

BAB  II

LANDASAN TEORITIS

Penulis pada bab ini akan membahas mengenai anatomi fisiologi sistem perkemihan, konsep dasar dan asuhan keperawatan teoritis dengan Benigna Prostat Hiperplasia.

A . Anatomi dan Fisiologi Sistem Perkemihan

  1. Ginjal
                            Ginjal  suatu kelenjar yang terletak di bagian belakang kavum abdominalis di belakang peritonium pada kedua sisi vertebra lumbalis Ill, melekat langsung pada
    (dinding belakang abdomen. Bentuk ginjal seperti biji kacang, jumlahnya ada dua kiri dan kanan, ginjal kiri lebih desar dari ginjal kanan dan pada umumnya laki-laki lebih panjang dari ginjal wanita. (Syaifuddin, 2006, hlm. 235)

 

7

 

Fungsi vital ginjal ialah sekresi air kemih dan pengeluarannya dari tubuh manusia. Di samping itu, ginjal juga merupakan salah satu mekanisme terpenting homestasis. Ginjal berperan penting dalam pengeluaran zat- zat toksin/ racun. Memperlakukan suasana keseimbangan air, mempertahankan keseimbangan asam basa cairan tubuh, mempertahankan keseimbangan garam-garam dan zat lain di dalam darah. (Harnowo dan Susanto, 2002, hlm. 32)

 

  1. Ureter.

Ureter terdiri dari 2 saluran pipa, masing-masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria),panjang kurang lebih 25-30 cm, dengan penampang kurang lebih 0,5 cm.  Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis.  Dinding ureter terdiri atas tiga lapisan, yaitu lapisan mukosa, otot polos, dan jaringan fibrosa. (Syaifuddin, 2006, hlm. 241).

            Fungsi ureter yaitu mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesika urinaria) yang ditimbulkan oleh gerakan-gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis masuk ke kandung kemih (Syaifuddin, 2006, hlm. 241).

  1. Vesika urinaria

Kandung kemih (vesika urinaria ) merupakan kantong yang  dapat mengelembung seperti balon karet, terletak di belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul. 

Kandung kemih (vesika urinaria) berfungsi menampung urine, bila terisi penuh.  Kandung kemih akan terlihat sebagian keluar dari rongga panggul. Kandung kemih berbentuk seperti kerucut, bagian-bagiannya ialah verteks (bagian memancung ke arah muka), fundus (bagian menghadap ke arah belakang dan bawah), dan korpus (bagian antara verteks dan fundus).  Dinding kandung kemih terdiri dari tiga lapisan otot polos dan selapis mukosa yang berllipat-lipat (Syaifuddin, 2006, hlm. 244).

  1. Uretra

Pada laki-laki uretra berjalan berkelok-kelok melalui tengah-tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis ke bagian penis, panjang uretra kurang lebih 20 cm.

Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar dan juga untuk menyalurkan semen. Pengeluaran urin tidak bersamaan dengan ejakulasi karena diatur oleh kegiatan kontraksi prostat  (Harnowo dan Susanto, 2002, hlm. 35).

Uretra adalah sebuah saluran yang berjalan dari leher kandung kemih kelubang luar, dilapisi oleh membran mukosa yang bersambung dengan membran  yang melapisi kandung kemih, meatus urinarius terdiri atas serabut otot melingkar, membentuk sfingter uretra. Panjang uretra pada wanita  sekitar 2,5-3,5 cm sedangkan pada pria 17-22,5 cm (Nursalam, 2006, hlm 6)

5.  Kelenjar prostat

Kelenjar prostat adalah salah satu organ genetalia pria yang terletak dibawah vesika urinaria dan membungkus uretra posterior (belakang).  Bila mengalami pembesaran, organ ini membuntu uretra pars prostatika dan  menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari buli-buli.

Kelenjar prostat adalah salah satu organ genetalia pria yang terlatak di sebelah inferior buli-buli dan membungkus uretra posterior (Purnomo, 2003, hlm 69).

Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa kurang lebih 20 gram.  Kelenjar prostat di bagi dalam beberapa zona, yaitu zona perifer, sentral, transisional, fibromuskuler anterior, dan periuretra (Nursalam, 2006, hlm.125).

Pada usia lanjut, beberapa pria mengalami pembesaran prostat. Keadaan ini dialamai oleh 50% pria yang berusia 60 tahun dan kurang lebih 80%  pria yang berusia 80 tahun (Nursalam, 2006, hlm.126).

 

  1. B.       Konsep Dasar Penyakit

Berikut ini akan di bahas konsep dasar penyakit yang meliputi

pengertian, etilogi, patofisiologi, gejala Benigna Prostat Hiperplasia, derajat Benigna Prostat Hiperplasia, komplikasi dan pemeriksaan penunjang, serta penatalaksanaan medis.

 

  1. Pengertian

Benigna Hiperplasia Prostat adalah pembesaran prostat sehingga membuntu urtetra pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari buli buli (Purnomo, 2003, hlm 69).

              Benigna Hiperplasia Prostat adalah pembesaran prostat yang mengenai uretra, menyebabkan gejala urinaria (Nursalam, 2006, hlm.135).

Benigna Hiperplasia Prostat suatu kaadaan dimana terjadinya pembesaran kelenjar prostat, memanjang ke atas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urine dengan menutupi orifisium uretra
(Smeltzer, 2002, hlm. 1625).

            Dari beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa benigna prostat hyperplasia adalah terjadinya pembesaran kelenjar prostat sehingga menutupi saluran kemih dan menyebabkan retensi urine pada penderitanya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.1

                       

Gambar: 2.1 Benigna Prostat Hiperplasia (Kumar et all,2007)

 

 

 

 

  1. 2.   Etiologi

 Menurut Purnomo,( 2003 hlm 70-72) Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperlasia prostat tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasi prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrolesteron (DHT) dan proses aging (menjadi tua) yaitu:

 

 

  1. Teori Dihydro Testosteron (DHT)

Testosteron yang dihasilkan oleh sel leyding pada testis (90%) dan sebagian dari kelenjar adrenal (10%) masuk dalam peredaran darah dan 98% akan terikat oleh globulin menjadi sex hormon binding globulin (SHBG). Sedang hanya 2% dalam keadaan testosteron bebas. Testosteron bebas inilah yang bisa masuk ke dalam  target cell  yaitu sel prostat melewati membran sel langsung masuk kedalam sitoplasma, di dalam sel testosteron direduksi oleh enzim 5 alpha redustase menjadi 5 dyhirdo testosteron yang kemudian bertemu dengan reseptor sitoplasma menjadi hormone receptor complex. Kemudian hormone receptor complex  ini mengalami transformasi reseptor menjadi  nuclear receptor  yang masuk kedalam inti yang kemudian melekat pada chromatin dan menyebabkan transkripsi m-RNA ini akan menyebabkan sintesa protein menyebabkan terjadinya pertumbuhan kelenjar prostat.

 

  1. Teori adanya ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron

Teori ini dibuktikan bahwa sebelum pubertas dilakukan kastrasi maka tidak terjadi BPH, juga terjadi regresi BPH bila dilakukan kastrasi. Selain androgen (testosteron/DHT), estrogen juga berperan untuk terjadinya BPH. Dengan bertambahnya usia akan terjadi perubahan keseimbangan hormonal, yaitu antara hormon testosteron dan hormon estrogen, karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi testosteron menjadi estrogen pada  jaringan adiposa di perifer dengan pertolongan enzim aromatase, dimana sifat estrogen ini akan merangsang terjadinya hiperplasi pada stroma, sehingga timbul estrogenlah yang berperan untuk perkembangan stroma. Kemungkinan lain ialah perubahan konsentrasi relatif testosteron dan estrogen akan menyebabkan produksi dan potensiasi faktor pertumbuhan lain yang dapat menyebabkan terjadinya pembesaran prostat.

Dari berbagai percobaan dan penemuan klinis dapat diperoleh kesimpulan, bahwa dalam keadaan normal hormon gonadotropin hipofise akan menyebabkan produksi hormon androgen testis yang akan mengontrol pertumbuhan prostat. Dengan makin bertambahnya usia, akan terjadi penurunan dari fungsi testikuler (spermatogenesis) yang akan menyebabkan penurunan yang progresif dari sekresi androgen. Hal ini mengakibatkan hormon dari fungsional histologis, prostat terdiri dari dua bagian yaitu sentral sekitar urtar yang bereaksi terhadap estrogen dan bagian perifer yang tidak bereaksi terhadap estrogen.

Pada BPH lebih sensitif terhadap DHT sehingga replikasi sel lebih banyak terjadi dibandingkan ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron. Pada usia yang semakin tua, kadar testosteron menurun, sedangkan kadar estrogen relatif tetap sehingga perbandingan antara estrogen testosteron relatif meningkat. Telah diketahui bahwa estrogen di dalam prostat berperan dalam terjadinya profilerasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara meingkatkan sensitifitas sel prostat terhadap rangsangan hormon endrogen, meningkatkan jumlah reseptor  androgen dan menurunkan jumlah kematian sel prostat.

  1. Intraksi Stroma – Epitel

Sel-sel stroma mendapatkan stimulasi dari DHT dan estradiol, sel-sel stroma mensintesis suatu growth faktor yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel stroma itu sendiri secara intrakrin dan atuokrin, serta mempengaruhi sel-sel epitel secara parankin. Stimulasi itu menyebabkan terjadinya proliferasi sel-sel epitel maupun sel stroma.

 

  1. Berkurangnya Kematian Sel Prostat

Berkurangnya kematian sel (apoptosis) pada sel prostat adalah mekanisme fisiologik untuk mempertahankan homeostatis kelenjar prostat. Berkurangnya jumlah sel prostat yang mengalami apoptosis menyebakan jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan menjadi meningkat sehingga menyababkan pertambahan prostat.

 

  1. Teori Sel Stem

Untuk mengganti sel-sel yang telah mengalami apotesis, selalu dibentuk sel baru. Di dalam kelenjar prostat dikenal suatu sel stem, yaitu sel yang mempunyai kemampuan berproliferasi sangat ekstensif. Terjadinya proliferasi sel-sel pada Benigna Prostat Hiperplasi dipostulisakan sebagai ketidak tepatnya  aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi yang berlebihan sel stroma maupun sel epitel.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 3.      Pathways

                Faktor Hormonal                                                                Hormon Estrogen

                      Meningkat                                                                            Meningkat

 

 

                                                              Benigna Prostat

                                                                 Hyperplasia

 

 

                                                                Penyempitan

                                                               Lumen Uretra

 

 

                     Pengeluaran                    Obstruksi dan

                   Bardkinin dan                          Iritan

                       Serotonin

                               

 

                        Hypoxia                     Urine tertahan di

                        Jaringan                      Vesika Uninaria

 

 

                                                                Refluks urine

 

 

                  Vesika Urinaria                         Ureter                                         Ginjal

 

 

             Kontraksi Meningkat                  Uretritis                           Urine Terakumulasi

 

 

                 Refluksi urine ke

                           Ureter

 

 

                   Infeksi (systis)

 

 

Patofisiologi BPH (Barbara C. Long, 2005)

 

 

 

 

  1. 5.      Manifestasi Klinis

            Manifestasi Klinis Benigna prostat hiperplasi biasanya ditemukan pada pria usia di atas 50 tahun menurut Nursalam, (2006, hlm 128) gejala sebagai berikut:

  1. Gejala Obstruksi

Biasanya di tandai dengan  terjadinya Hesitansi, Pancaran miksi lemah dan frekuensinya Intermitten  merasa tidak puas setelah miksi dan adanya tetesan setelah miksi

  1. Gejala iritatif

Adanya perubahan Frekuensi berkemih, terjadi nokturi, urgensi, dan disuria.

 

  1. 6.      Komplikasi

Komplikasi yang terjadi pada umumnya karena tindakan pembedahan yang diberikan dengan prostalektomi (pengangkatan kelenjar  sebagian atau seluruhnya) bergantung pada jenis pembedahan dan mencakup hemoragi, pembentukan bekuan obstruksi kateter dan disfungsi seksual.

Kebanyakan prostatektomi tidak menyebabkan impotensi (meskipun protalektomi perineal dapat menyebabkan impotensi akibat kerusakan saraf pudendal yang tidak dapat dihindari).

Bagi klien yang tidak ingin untuk kehilangan aktivitas seksualnya, umpan prostetik penis mungkin digunakan untuk membuat penis menjadi kaku guna keperluan hubungan seksual.

 

  1. Pemeriksaan Penunjang

Menurut Reksoprasodjo, (2003, hlm 166) Pada saat sekarang pemeriksaan  prostat dapat dilakukan berbagai cara dengan tujuan  untuk menegakkan diagnosis BPH dilakukan beberapa cara antara lain:

  1. Pemeriksaan radiologik

Seperti foto polos perut dan Pyelografi Intra Vena yang sangat di kenal dengan istilah BNO dan IVP. Cara pemeriksaan ini dapat memberikan keterangan adaanya penyakit ikutan misalnya batu saluran kemih, sumbatan ginjal (hidronefrosis).

  1. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG).

Cara pemeriksaan ini untuk prostat hiperplasia dianggap sebagai pemeriksaan yang baik oleh karena ketepatannya dalam mendeteksi pembesaran prostat, tidak ada bahaya radiasi dan juga relatif murah. 

Pemeriksaan USG dapat dilakukan secara trans abdominal atau transrektal (TRUS = Tran Rectal Ultrasonografi).

 

 

  1. Pemeriksaan CT-Scanning dan Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Oleh karena pemeriksaan ini mahal dan keterangan yang diperoleh tidak terlalu banyak dibandingkan dengan pemeriksaan dengan cara yang lain maka cara ini dalam praktek jarang dipakai.

  1. Pemeriksaan sistoskopi

Sistoskopi sebaiknya dilakukan apabila pada anamesa ditemukan adanya hematuria (adanya darah dalam urin) atau pada pemeriksaan urine ditemukan adanya mikrohematuri, untuk mengetahui adanya kemungkinan tumor didalam vesika atau sumber perdarahan dari atas yang dapat dilihat apabila darah datang dari muara ureter,atau adanya batu kecil yang radiolusen didalam vesika.

 

  1. 8.      Penatalaksanaan Medis

             Penatalaksanaan terdapat 2 pendapat untuk yang pertama menurut Reksopradjo, (2003, hlm 166-168) yaitu:

  1. Penyakit Benigna Prostat Hiperplasia dapat diatasi dengan cara pembedahan sesuai dengan derajat seperti prostatektomi adalah pengangkatan kelenjar prostat sebagian atau seluruhnya. Beberapa prosedur digunakan untuk mengangkat kelenjar bagian prostat yang mengalami hipertropi yaitu:

 

1)      Penderita dengan derajat  satu

 Biasanya belum memerlukan tindakan operatif, dapat diberikan pengobatan  secara konservasif misalnya dengan diberikan alfa blocker sebaiknya yang selektif untuk (alfa 1) misalnya prazosin, atau terazosin 1 mg sampai 5 mg setiap hari.

2)   Penderita dengan derajat dua

Sebenarnya sudah ada indikasi untuk melakukan intervensi operatif, dan yang sampai sekarang masih di anggap sebagai cara memilih Trans Urethral Resection (TURP). Cara pengobatan ini meskipun masih memerlukan pembiusan dan merupakan tindakan yang invasif masih dianggap aman dan menurut pengalaman di Jakarta mortalitas TURP sekitar 1% dan morbiditas sekitar 7-8%.  Kadang-kadang derajat dua penderita masih belum mau dilakukan operasi, dalam keadaan seperti ini masih bisa dicoba dengan pengobatan konservatif.

3)   Penderita derajat tiga

TURP masih dapat dikerjakan oleh ahli urologi yang cukup berpengalaman melakukan TURP oleh karena biasanya pada derajat tiga ini besar prostat sudah lebih dari 60 gram.  Apabila diperkirakan prostat sudah cukup besar sehingga reseksi diperkirakan tidak akan selesai dalam 1 jam maka sebaiknya dilakukan operasi terbuka.

 

4)   Penderita derajat empat

Tindakan pertama yang harus segara dikerjakan ialah membebaskan penderita dari retensi urin total, dengan jalan memasang kateter atau memasang sistostomi setelah itu baru dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melengkapi diagnostik kemudian terapi definitif dapat dengan TURP satu operasi terbuka.

 

  1. Penyakit Benigna Prostat Hiperplasia dapat diatasi dengan cara pembedahan sesuai dengan derajat seperti prostelaktomi adalah pengangkatan kelenjar prostat sebagian atau seluruhnya (doengoes 2000, Hal 679).

1)   Trans Uretrhal Resection of the Prostate (TURP)

Jaringan prostat obstruksi dari lobus medial sekitar uretra di angkat dengan sistoskop/resektoskop dimasukan kedalam uretra.

2)   Suprapubic/Open Prostatectomy

Untuk masa lebih dari 60 g/60cc.  Penghambat jaringan prostat diangkat melalui insisi garis tengah bawah dibuat melalui kandung kemih.  Pendekatan ini lebih ditujukan bila ada batu kandung kemih.

 

 

 

 

3)   Retropubic Prostatectomy

Massa jaringan prostat hiperplasia (lokasi tinggi bagian pelvis) diangkat melalui insisi abdomen bawah tanpa pembukaan kandung kemih.

4)   Perineal Prostatectomy

Massa prostat besar dibawah area pelvis diangkat melalui insisi antara skrotum dan rektum.  Prosedur radikal ini dilakukan untuk kanker dan dapat mengakibatkan impotensi.

 

  1. C.    Asuhan Keperawatan BPH

Untuk melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan Benigna Prostat Hiperplasi digunakan pendekatan proses keperawatan yaitu suatu pendekatan sistemik, logis, dinamis dan teratur. Hal ini penting untuk mengidentifikasi masalah keperawatan klien yang bersifat bio-psiko, kultural dan spritual.

Adapun langkah-langkah dari proses keperawatan menurut Doengoes, (2000, hlm 671) adalah sebagai berikut:

  1. Pengkajian

            Kumpulan gejala pada BPH dikenal dengan LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms) antara lain : hisitansi, pancaran urin lemah, intermittens, terminal dribbling, terasa ada sisa setelah miksi disebut gejala obstruksi dan gejala iritatif. Berupa urgensi, frekuensi, frekuensi serta disuria. Data dasar pengkajian pasien diperoleh melalui:

Sirkulasi

Tanda          : Peningkatan TD (efek pembesaran ginjal)

Eliminasi

Gejala         : – Penurunan kekuatan otot / dorongan aliran urine

                        tetesan keragu-raguan pada berkemih awal

                     – Ketidakmampuan untuk mengabsorbsi kandung kemih dengan         lengkap, dorongan dan frekuensi berkemih.

                     – Nokturia, disuria, hematuria

                     – Duduk untuk berkemih

                     – LSK berulang, riwayat batu (stasis urinaria)

                     – Konstipasi (Prostrosi prostat kedalam rektum)

Tanda          :- Massa padat dibawah abdomen bawah kuadran                                 III dan IV (disertai kandung kemih)   nyeri tekan kandung   kemih

                        Hernia ingunalis hemoroid (mengakibatkan   peningkatan abdominal yang memerlukan             pengosongan kandung kemih mengatasi tahanan)

Makanan/cairan

Gejala         : – Anoreksia; Mual, Muntah

                      – Penurunan berat badan

Link | Posted on by | Leave a comment